masjidSungguh Allah telah mengumpulkan mutiara-mutiara hikmah dan wasiat-wasiat indah pada diri Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Sabda beliau adalah ucapan yang paling sempurna dan Indah. Barangsiapa yang memiliki hubungan yang kuat dengan sunnah beliau, maka ia akan mendapat kebahagian di dunia dan di akhirat.

Diantara wasiat beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang ringkas namun memiliki kandungan yang dalam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dan Imam Ibnu Majad dalam sunannya dari hadits Abu Ayyub al Anshariy -radhiyallahu ‘anhu- bahwa ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah:

عِظْنِي وَأَوْجِزْ، وفي رواية عَلِّمْنِي وَأَوْجِز

“Beri aku nasehat yang ringkas” dalam riwayat lain “ajari aku pelajaran yang ringkas”. Maka Nabi bersabda:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا، وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاس

“Bila engkau mendirikan shalat, maka shalatlah layaknya shalat orang yang akan meninggalkan (dunia), jangan mengatakan suatu ucapan yang engkau akan menyesalinya esok,  dan kumpulkan keputusasaan dari apa yang ada di tangan manusia”

Hadits  ini telah merangkum tiga wasiat yang agung yang mengumpulkan semua kebaikan. Barangsiapa yang memahami hadits ini dan mengamalkannya, maka ia akan memegang seluruh kebaikan di dunia dan akhiratnya.

Wasiat Pertama: Wasiat shalat yaitu punya perhatian kepada shalatnya dan memperbaiki cara melaksanakannya.

Wasiat Kedua: Wasiat untuk menjaga lisan.

Wasiat Ketiga: Wasiat untuk qanaah dan hanya menggantungkan hati kepada Allah.

Pada wasiat pertama Nabi kita mengajak orang yang shalat agar mereka shalat seperti orang yang hendak meninggalkan dunia.

Dari perkara yang diketahui bersama bahwa orang yang akan meninggakan dunia akan berhati-hati dan punya perhatian besar kepada amalannya, berharap agar amalan terakhirnya adalah amalan terbaik, dan ini berbeda dengan yang merasa bahwa ia masih lama hidup di dunia. Ia akan berusah shalat sebaik mungkin, akan ia sempurnakan ruku dan sujudnya, tenang dalam bacaan-bacaan shalatnya dan semisalnya.

Oleh karena itu hendaklah seorang hamba yang beriman merenungi wasiat ini dalam setiap shalatnya. Ia shalat seakan-akan ia sedang shalat untuk terakhir kalinya dan ia tidak akan mampu lagi melaksanakan setelahnya, hingga akan masuk ke relung-relung hatinya rasa nikmat dan luar biasanya shalat yang ia lakukan. Disamping ia berusaha melakukan gerakan shalat dalam bentuk yang paling sempurna.

Hingga shalat itu mampu mengatarkan kepada kebaikan, mewariskan kebahagian dan ketenangan hati, serta mempu menghindarkannya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapatbmenghindarkan dari perbuatan keji dan mungkar” [QS. Al-Ankabut: 45]

Wasiat Kedua adalah wasiat untuk menjaga lisan. Kata orang lidah itu tak bertulang. Hingga kadang seseorang tidak memikirkan baik buruk apa yang keluar dari lisannya. Oleh karenanya Nabi barsabda:

ولَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا

“Jangan mengatakan suatu ucapan yang engkau akan menyesalinya esok”

Artinya berusahalah untuk menahan lisan dan ucapanmu dari ucapan-ucapan yang akan engkau sesali esok. Rasulullah bersabda:

نَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ 

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dengan kalimat itu ia akan tergelincir ke dalam neraka lebih jauh daripada jauhnya timur dan barat” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah juga bersabda kepada Muadz bin Jabal -radhiyallahu ‘anhu-:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ قُلْتُ بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Maukah kamu aku tunjukkan pokok perkara agama, tiang dan puncaknya?” Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, sedangkan puncaknya adalah jihad.’ Kemudian beliau bersabda: “Maukah kamu aku kabarkan dengan sesuatu yang menguatkan itu semua?” Aku menjawab; ‘Ya, wahai Nabi Allah.’ Lalu beliau memegang lisannya, dan bersabda: “‘Tahanlah (lidah) mu ini.” Aku bertanya; ‘Wahai Nabi Allah, (Apakah) sungguh kita akan diadzab disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan? ‘ Beliau menjawab; “(Celakalah kamu) Tidaklah manusia itu disunggkurkan ke dalam neraka di atas muka atau hidung mereka melainkan karena hasil ucapan lisan mereka?” [HR. Ahmad, Tirmidzi]

Maka ini semua adalah ajakan untuk introspeksi ucapan yang keluar dari lisan kita, kita pikirkan apa yang akan kita ucapkan. Jika baik dan membawa kebaikan, maka ucapakanlah, jika buruk dan membawa kepada keburukan, maka tahanlah. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia jaga lisannya” akan ia tidak termasuk orang yang menyesal ketika ia berdiri di hadapan Allah di hari kiamat nanti.

Wasiat ketiga adalah wasiat untuk qanaah dan menggantungkan hati hanya kepada Allah. Qanaah adalah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya dan tidak mengeluh. Sabda beliau: 

وَأَجْمِعِ اليَأسَ مِمَّا فِي يَدَيِ النَّاس

“Dan kumpulkan keputusasaan dari apa yang ada di tangan manusia”

Maksudnya adalah jangan mengharapkan apa yang ada yang ada di tangan manusia. Tapi harapkanlah apa yang ada di sisi Allah. Mintalah hanya kepada Allah, berdo’alah, harapkan semua dari Allah, karena Allah tidak akan mengecewakan hambaNya. Dia maha mampu sedangkan manusia adalah lemah dan sering mengecewakan kita.

Barangsiapa yang berputus asa dan tidak mengharap sesuatu dari manusia, lalu ia menggantungkan harapan hanya kepada Allah, maka ia akan menjadi orang yang paling tentram jiwa  dan perasaannya.

Allah berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah mampu memenuhi kebutuhan hambaNya?” [QS. Az Zumar: 36

Juga berfirman: 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya”

[QS. Ath Thalaq: 3]

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bisa mengamalkan wasiat-wasiat ini.

Tiga Wasiat Kenabian

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *