Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bergulir dan berganti dari masa ke masa hingga akhir zaman nanti. Hidup terus berputar bagai roda pedati, yang terus berjalan dan takkan pernah berhenti.

Ada yang datang, ada pula yang pergi. Ada suka ada pula duka, dan kesemuanya itu merupakan tradisi dalam kehidupan. Semua orang telah paham dan tau akan hal itu, karena dunia hanyalah kehidupan yang sementara dan bukan keabadian. Karena itulah Allah -Azza Wa Jalla- mengingatkan kita,

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُون

dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

Karena itulah, sifat orang yang cerdas adalah orang yang memilih kehidupan yang sebenarnya lagi abadi bukan kehidupan yang sementara. Namun dalam kenyataannya, karena alasan untuk bertahan hidup, manusia lebih banyak memilih kehidupan dunia yang sementara dan meninggalkan kebahagiaan akhirat yang kekal. Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman,

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

“sekali-kali janganlah demikian. sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.”(QS. Al-Qiyaamah: 20-21)

Ketahuilah, bahwa hidup di dunia sebenarnya tidaklah susah. Namun yang susah bagaimana cara kita untuk hidup ?

Bagaimana cara Kita Hidup ?

Kadang dengan pertanyaan ini, kita lebih berpikir ke arah dunia semata yaitu masalah perut. sehingga kita merasa bahwa hidup ini hanya untuk makan.

Memang menjadi sesuatu yang wajar kita butuh makan untuk hidup dan kita sadari akan hal itu. Tapi mengapa pertanyaan,”untuk apa kita diciptakan” terlupakan?

Karena itulah, banyak manusia yang hidup seperti hewan ternak tanpa mengenal aturan dari penciptanya. Ia hidup bebas tanpa mau diperintah dan dilarang sehingga mempertuhankan hawa nafsunya. Allah -Azza Wa Jalla- mencela orang-orang seperti itu dalam firman-Nya,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيل

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqon: 43-44)

Tujuan Hidup yang Agung.

Sesungguhnya Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyaat:56).

Namun diantara manusia ada yang mempersekutukan Allah dalam ibadah dengan makhluk-Nya seperti dari kalangan malaikat, para Nabi, orang sholeh, wali-wali dan lain sebagainya. Mereka beribadah kepada Allah -Azza Wa Jalla- dan beribadah pula kepada selain-Nya. Sehingga ibadahnya tidak murni lagi kepada Allah, namun telah bercampur dengan noda kesyirikan. Padahal kewajiban mereka adalah memurnikan dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah -Subhanahu WaTa’ala-,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

“Padahal mereka tidak diperintah melainkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(QS. Al-Bayyinah: 5)

Karena itulah, Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- mengutus para Nabi dan Rasul untuk mendakwakan tauhid dan melarang dari kesyirikan. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”(QS. An-Nahl: 36)

Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain dari Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-

 

Penjagaan Tauhid.

Tauhid merupakan pondasi amal yang agung dalam kehidupan ini. Ia adalah intisari dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam. sebab itulah Islam dikenal sebagai agama tauhid, yaitu agama yang mengesakan Allah satu-satunya dalam perkara yang khusus untuk-Nya seperti ibadah, pencipta, pengatur dan selainnya. Tauhid merupakan satu-satunya jalan untuk meraih ridho Allah dan mendapatkan jaminan keamanan di dunia dan di akhirat. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاّ الله، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ الله، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ. وَحِسَابُهُ عَلَى الله – عز وجل-

Barangsiapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan mengingkari (sesembahan-sesembahan) selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, dan hisab (perhitungan amal)nya diserahkan kepada Allah –  Azza wa Jalla-. [HR. Muslim (23)]

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan dalam hadits ini, bahwasanya tidaklah diharamkan menumpahkan darah dan diambil hartanya melainkan terkumpul padanya dua perkara, yaitu

  1. mengucapkan laa ilaaha illallahu.
  2. kufur terhadap segala sembahan selain Allah.

Maka barangsiapa mengumpulkan ke dua perkara ini, maka wajib untuk menahan diri darinya secara zhohir dan menyerahkan urusan batinnya kepada Allah -Azza Wa Jalla-. Jika ia jujur dari dalam hatinya, maka Allah –Ta’ala- akan masukkan ia ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Namun jika ia seorang yang munafik, maka baginya adzab yang pedih kelak di akhirat. Adapun di dunia, maka mereka diperlakukan secara lahiriahnya saja.

Maka bisa diambil faedah dari hadits tersebut,

  1. makna laa ilaaha illallahu adalah kufur kepada segala yang disembah selain Allah.
  2. sekedar mengucapkan laa ilaaha illallahu tanpa kufur kepada segala sembahan selain Allah, maka tidak diharamkan harta dan darahnya walaupun ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya.
  3. barangsiapa yang bertauhid dan konsisiten di atas syari’at secara dzhohir maka wajib menahan diri darinya hingga nampak jelas darinya sesuatu yang menyelisihi hal tersebut.

Sumber: Buletin dakwah Madrosah Sunnah, edisi 54/ Jumadil Tsani 1438 H

alamat buletin

TAUHID MELINDUNGI HARTA

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:                    

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *