Setiap manusia menginginkan dirinya masuk ke dalam surga. Surga adalah harapan yang paling agung menurut seorang mukmin. Memasukinya dan hidup di dalamnya adalah sebuah angan-angan yang menghantui sepanjang umurnya. Surga membuat seseorang bersegera kepada kebaikan dan kebenaran. Walau jalan tersebut  dipenuhi mara bahaya, kesusahan, onak dan duri bahkan walau ditebus dengan kematian.

Akan tetapi surga itu memiliki pintu yang terkunci. Dan kunci itu adalah kalimat  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

”Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.(HR. Muslim no. 149)

Kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ Tidak hanya sekedar diucapkan saja akan tetapi memiliki konsekwensi yang harus diamalkan yaitu meninggalkan dan mengingkari seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah dan menujukan ibadah hanya kepada Allah semata.

Syaikh Sulaiman bin Abdullah mengatakan: “Adapun sekedar mengucapkannya saja tanpa mengetahui maknanya dan tidak mengamalkan konsekwensinya, maka hal itu tidaklah bermanfaat berdasarkan ijma” (LihatTaisirul Azizil Hamid karya beliau).

Kesimpulannya, Laa ilaaha illallah adalah sebuah kalimat yang agung, dan harus terkumpul padanya 3 hal : mengucapkannya, mengetahui maknanya, dan mengamalkan konsekuensinya. (Lihat I’anatul Mustafid karya Syaikh Shalih Al Fauzan)

Pembaca yang budiman, sesungguhnya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ memiliki 7 syarat yg harus dipenuhi. Jika tidak, maka kalimat tersebut menjadi batal dan tidak bermanfaat.

Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya: Bukankah kunci surga adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ? Beliau menjawab: Ya. Tapi setiap kunci pasti memiliki gerigi. Jika engkau memiliki kunci dengan gerigi yang tepat maka pintu itu akan terbuka, namun jika gerigi kunci itu tidak tepat, maka pintu itu tidak akan terbuka (Hilyatul Awliyaa’ (4/66), (at Taarikhul Kabiir [1/95]).

Adapun ke tujuh syarat tersebut adalah :

Pertama: al-Ilmu, mengetahui kandungan makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.

Seorang muslim harus mengetahui makna لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Allah memerintahkan dalam al-Quran untuk mengetahui makna kalimat tersebut:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada Ilaah (sesembahan yang haq) kecuali Allah…”(Q.S Muhammad: 19)

Sangat disayangkan sebagian besar saudara kita muslim masih belum mengerti dan memahami makna Laa Ilaaha Illallah sehingga terjatuh dalam praktek kesyirikan dan kekufuran tanpa mereka sadari.

Kedua: al-yaqiin, yakin dan tidak ragu terhadap kandungan makna yang terdapat di dalamnya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Hanyalah orang-orang yang beriman itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu…”(Q.S al-Hujuraat:15)

-Ketiga: al-Qobuul, yaitu menerima dengan sepenuh hati dan tidak bersikap sombong dengan menolaknya serta bersedia menjalankan konsekuensinya.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrikin) jika dikatakan kepada mereka Laa Ilaaha Illallaah, mereka menyombongkan diri”. (Q.S as-Shaffaat: 35)

Orang-orang musyrikin Arab sangat paham dengan makna Laa Ilaaha Illallah. Mereka tahu bahwa jika mereka mengucapkannya, mereka harus meninggalkan seluruh sesembahan selain Allah yang sebelumnya mereka sembah. Maka Mereka tidak mau melakukan konsekuensi itu sebagai bentuk kesombongan.

-Keempat: al-Inqiyaad, yaitu tunduk patuh dan berserah diri kepada Allah.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى…

“dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sedangkan ia berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang dengan buhul tali yang kokoh” (Q.S Luqman: 22)

Buhul tali yang kokoh itu ditafsirkan oleh Sahabat Nabi Ibnu Abbas sebagai Laa Ilaaha Illallah (Tafsir atThobary) artinya orang yang berpegang teguh kepada kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ maka orang itu akan berserah diri kepada Allah.

-Kelima: as-Shidq, yaitu Jujur dan lawannya adalah dusta

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah ada seseorang yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan yang haq) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, jujur dari hatinya, kecuali Allah akan haramkan ia dari neraka”. (H.R al-Bukhari dari Anas bin Malik)

Sebaliknya, orang munafik hanya mengucapkan secara lisan namun tidak jujur dalam hatinya bahkan hatinya mengingkari.

…يَقُولُونَ بِأَفْواهِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ…

“…mereka (kaum munafikin) mengucapkan dengan mulut mereka apa yang tidak terdapat dalam hati mereka, dan Allah Paling Mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. (Q.S Ali Imran: 167).

-Keenam: Ikhlas dalam mengucapkannya, hanya karena Allah

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, (hanya) mengharapkan Wajah Allah (ikhlas)”. (H.R al-Bukhari dan Muslim dari ‘Itban bin Malik)

Orang beriman mengucapkan dan menjalankan konsekuensi Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas karena Allah semata, sedangkan orang munafik mengucapkannya hanya untuk kepentingan duniawi.

-Ketujuh: al-Mahabbah (Mencintai لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, dan mencintai orang-orang yang menjalankan syariat-syariat-Nya).

Konsekuensi dari mengucapkan لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ adalah mencintai orang-orang yang beriman dan bertauhid serta membenci kesyirikan, kekufuran dan para pelakunya. Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah merupakan dasar dalam melakukan dan meninggalkan sesuatu.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“Dan di antara manusia, ada yang menjadikan tandingan-tandingan dari selain Allah yang mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Sedangkan orang yang beriman lebih tinggi kecintaannya kepada Allah…”. (Q.S al-Baqoroh:165)

Semoga kita memiliki ke tujuh syarat kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ sebagai kunci masuk ke dalam surga.

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi Februari Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

SYARAT KALIMAT لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:            

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *