Bila kita tanyakan, siapakah yang paling cinta kepada Nabi -shallallohu ‘alaihi wasallam- ? Tanpa ragu kita jawab, para sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling cinta kepada Nabi. Banyak sekali riwayat yang menunjukkan bukti akan hal ini.

Riwayat Pertama: “Para sahabat Nabi rela mempertaruhkan jiwa raga untuk Rasulullah”
 
Di dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum karya Syaikh Syafiyurrahman, dicantumkan kisah-kisah heroik para sahabat Nabi pada perang Uhud. Di antaranya sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah yang berkata kepada Rasulullah: “Engkau tidak perlu khawatir terkena anak panah pasukan musyrik, leherku akan melindungi lehermu”.
 
Ada lagi Abu Dujanah yang berdiri dihadapan Nabi -shallallohu ‘alaihi wasallam- dengan merelakan punggungnya untuk menahan panah-panah yang diarahkan ke Rasulullah. Sahabat yang lain, Abdurrahman bin Auf mendapat dua puluh luka ditubuhnya, dan kakinya pincang setelah itu. Juga Thalhah bin Ubaidillah yang sendirian melindungi Nabi -shallallohu ‘alaihi wasallam- dari kepungan pasukan musyrik, hingga ia mendapatkan 39 luka disekujur tubuhnya dan semua jari-jari tangannya putus menahan pedang. Juga kisah tujuh orang sahabat dari kaum Anshar yang satu persatu mereka gugur demi menahan serangan bertubi-tubi dari pasukan musyrik yang ingin membunuh Nabi. Dan ada pula Mush’ab bin Umair putus dua tangannya melindungi Nabi r, sebelum akhirnya ia wafat…
 
Subhanallah…membaca riwayat-riwayat ini membuat kita merasa bahwa cinta kita kepada Nabi hanya setetes bila dibandingkan dengan dalamnya lautan cinta dari para sahabat beliau. Dan kita tidak akan pernah bisa sampai di ketinggian derajat cinta mereka kepada Rasulullah.
 
Riwayat Kedua: “Perhatian para sahabat kepada Rasulullah…”
 
Ketika sahabat Nabi yang bernama Khubaib bin Adi ditangkap oleh pasukan musyrik, ia diputuskan untuk dibunuh lalu tubuhnya disalib. Sebelum dibunuh, Abu Sufyan seorang pemuka kaum musyrik berkata: ”Apakah kamu suka kalau seandainya Muhammad ada di sini dan kami tebas lehernya, lalu engkau bebas pulang bersama keluargamu?” Khubaib menjawab dengan jawaban tegas dan mantap: “Tidak, demi Allah..! Aku tidak suka tinggal di tengah keluargaku, sementara Muhammad -shallallohu ‘alaihi wasallam- tertusuk duri karena perbuatan kalian” (dari kitab Ar-Rohiqul Makhtum).
 
Perhatikanlah kisah luar biasa ini, dimana ketika Khubaib bin Ady ditanya bila seandainya posisinya ditukar dengan Rasulullah, yaitu ia bebas dan Rasulullah yang dibunuh, apakah ia mau. Tapi ternyata, sekalipun hanya berandai-andai, sahabat Nabi tidak rela bila Nabi yang ia cintai terluka. Faedah dari kisah ini adalah: sekalipun dalam khayalan, para sahabat Nabi tidak rela bila Rasulullah terluka dengan luka sekecil apapun, walau hanya tertusuk duri…”. Subhanallah…!
 
Kisah pecinta Nabi r berikutnya adalah kisah seorang wanita dari suku Bani Dinar:
 
Di tengah perjalanan pulang dari perang Uhud, pasukan Muslim bertemu dengan seorang wanita dari suku Bani Dinar. Wanita itu diberitahukan berita duka bahwa (anaknya), suaminya, saudaranya, dan ayahnya semua terbunuh dalam perang. Namun, bukannya sedih mendengarnya, tapi wanita itu malah bertanya: “Lalu bagaimana dengan Rasulullah?”. Mereka pun menjawab: “Beliau baik-baik saja wahai ibu, dengan membawa segala puji dari Allah, seperti yang engkau harapkan”. Wanita itu lalu berkata: “Tunjukkan padaku agar aku bisa melihat beliau”. Dan ketika ia telah melihat Rasulullah dalam keadaan selamat, maka wanita itu pun berkata kepada Rasulullah: “Semua musibah asal kan tidak menimpamu adalah kecil”. (riwayat Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah An-Nabawiyah 2/99).
 
Faedah dari kisah ini: Betapa dalamnya cinta para sahabat kepada Nabi, bila seorang wanita yang berasal dari sebuah dusun dan jarang bertemu Rasulullah, tapi memiliki kecintaan yang sangat dalam kepada beliau, maka bagaimana lagi dengan para sahabat yang dekat dengan Rasulullah. Ini juga menunjukkan betapa berartinya sosok Rasulullah dalam diri para sahabat beliau, baik yang akrab maupun yang jarang bertemu beliau.
 
Faedah lainnya dari kisah ini adalah: Mencintai Nabi tidak lah harus menjadi seorang kiyai atau harus tamatan S.Ag atau sarjana IAIN, tapi cinta pada Nabi bisa dilakukan oleh siapapun; ibu-ibu desa, pria-wanita, kaya-miskin, tua-muda, pintar-bodoh, siapapun anda, cintailah Nabi Muhammad…
 
Selanjutnya, kita akan membaca kisah kecintaan yang lain dari para sahabat Nabi
 
Sebelum terjadi perang Tabuk, tersiar isu bahwa pasukan romawi yang bergabung dengan pasukan raja daerah Ghassan sedang bersiap-siap untuk menyerbu kota Madinah. Bersamaan dengan isu penyerangan itu, terjadi pula suatu permasalahan antara Rasulullah dan istri-istri beliau, sehingga beliau menghindari mereka selama sebulan. Selama itu wajah Rasulullah terlihat tidak seceria biasanya. Hingga tersiar kabar, Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Padahal sebenarnya beliau tidak menceraikan mereka. (Baca kitab Ar-Rahiqul Makhtumdan hadits Imam Muslim no. 2704).
 
Dan tahukah anda, bahwa ternyata ceria dan tidaknya Rasul serta permasalahan yang menimpa rumah tangga beliau, lebih menjadi pusat perhatian para sahabat beliau dibandingkan kekhawatiran mereka diserang oleh pasukan raja Ghassan. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Sahabat Nabi Umar bin Khaththab:
 
“Pada waktu itu kami dibayangi perasaan khawatir kalau-kalau raja Ghassan akan menyerang kami. Suatu malam, seorang rekanku datang mengetuk pintu rumahku keras-keras sambil berteriak: ‘Buka pintunya…! Buka…! Telah terjadi masalah yang sangat gawat…’ Aku pun kaget dan bertanya: ‘Ada apa? Apakah pasukan Ghassan telah menyerang?’. Maka rekanku itu menjawab: ‘Bukan, bahkan jauh lebih besar dan lebih gawat dari itu, Rasulullah telah menceraikan semua istri-istrinya…’, (Diriwayatkan Imam Bukhari no. 5191)
 
Subhanallah, diserbunya kota Madinah oleh pasukan romawi bukanlah hal besar bila dibandingkan dengan permasalahan yang menimpa Nabi yang tercinta. Sungguh menakjubkan…
 
Dan tahukah anda bahwa bukan hanya keselamatan Rasulullah yang menjadi pusat perhatian para sahabat beliau, bahkan perhatian mereka juga tertuju pada hal kecil yang mungkin dianggap remeh oleh kita, misalnya: Sahabat Nabi Ibnu Umar berkata: Uban Rasulullah hanya berjumlah sekitar 20 lembar rambut putih”. (Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah no. 3630). Padahal sahabat Nabi Anas bin Malik berkata: “Uban di kepala Nabi sedikit sekali dan hampir-hampir tidak terlihat (Riwayat Imam Ahmad, 3: 266)
 
Cermatilah perkataan Anas bin Malik, bahwa uban Rasulullah hampir-hampir tidak terlihat, tapi yang menakjubkan, ternyata Ibnu Umar masih sempat menghitung jumlahnya. Betapa ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat detail perhatiannya kepada Nabi. Padahal Ibnu Umar termasuk sahabat Nabi yang masih remaja, umurnya baru belasan tahun..! Sungguh beda dengan perhatian remaja Muslim sekarang, yang hampir-hampir tidak mengenali Nabi mereka, kecuali hanya tahu nama saja… semoga Allah mengampuni kita… sungguh jauh kita dari mengenal Rasulullah…
 
Riwayat Ketiga: “Kesukaan para sahabat pada apa-apa yang Rasulullah suka”
 
Sahabat Nabi Ibnu Umar berkata: “Rasulullah pernah memakai cincin emas dijari tangan kanannya. Maka orang-orang (yakni para sahabat) pun juga memakai cincin emas. Namun, kemudian Rasulullah membuang cincin itu seraya berkata: “Aku tidak akan pernah lagi memakainya”, maka orang-orang pun juga ikut membuang cincin-cincin emas mereka”  (dan ketika Rasulullah memakai cincin dari perak, maka orang-orang pun juga memakai cincin perak). (HR. Imam Bukhari Bab: Al-Libas).
 
Faedah dari hadits ini adalah: Para sahabat sangat bersemangat untuk mengikuti dan meniru Nabi, sampai dalam hal memakai cincin.
 
Tapi, kalau anda merasa berat untuk meniru para sahabat Nabi pada hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya, maka jangan berkecil hati dulu, bacalah riwayat-riwayat berikut:
 
Thalhah bin Nafi’ pernah mendengar sahabat Nabi Jabir bin Abdullah berkata: “Suatu hari, Rasulullah memegang tangan saya dan mengajak untuk bertandang ke rumah beliau. Tak berapa lama kemudian, beberapa potong roti dihidangkan ke beliau, dan setelah itu beliau bertanya: “Apa kuahnya?” Keluarga beliau menjawab: “Tidak ada kuah, hanya ada sedikit cuka”. Rasulullah lalu berkata: “Sungguh cuka itu adalah sebaik-baik kuah”. Jabir bin Abdullah pun berkomentar: Sejak mendengar ucapan Rasulullah itu, maka sekarang saya pun menyukai cuka”.Sementara Thalhah bin Nafi yang meriwayatkan hadits ini juga berkomentar: Saya pun mulai menyukai cuka semenjak mendengar hadits dari Jabir itu“.
 
Sahabat Nabi Anas bin Malik juga punya kisah yang serupa, ia berkata: “Suatu ketika seorang sahabat pernah mengundang Rasulullah. Saya ikut pergi bersama beliau. Kemudian Rasulullah dihidangkan kuah sayur labu. Maka beliau menyantapnya dan sangat menyukainya. Melihat hal itu, saya memberikan kuah labu saya kepada beliau dan saya tidak memakannya.” Anas bin Malik lalu berkata: Setelah kejadian itu, saya pun menyukai kuah sayur labu“. (Kedua kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di kitab Shohihnya)
 
‘Ubaid bin Juraij pernah bertanya kepada sahabat Nabi Ibnu Umar: “Aku melihatmu pakai sendal yang tidak berbulu?”  Ibnu Umar lalu berkata: “Sungguh aku pernah melihat Rasulullah berwudhu dengan memakai sandal yang tidak berbulu. Maka aku pun jadi suka memakai sendal yang tidak berbulu.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
 
Coba perhatikan baik-baik tiga riwayat yang sangat menarik ini, dimana sahabat Nabi:  Jabir bin Abdillah, Anas bin Malik & Ibnu Umar mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Nabi r tidak harus diwujudkan dengan cara-cara yang tidak pernah dicontohkan ataupun diperintahkan oleh Nabi r. Ketulusan cinta kepada Nabi juga bisa diwujudkan dengan cara-cara yang sederhana, tapi menunjukkan kedalaman cinta kepada Rasulullah. Seperti yang dilakukan oleh mereka, yaitu menyukai segala sesuatu yang disukai Nabi.
 
Para pembaca yang semoga diberkahi Allah, adapun saat ini cinta Rosul telah dimodifikasi sedemikian rupa. Beberapa hal yang sama sekali tidak pernah di perintahkan Nabi ataupun dicontohkan oleh para sahabat Nabi, kini di lakukan dengan dalih cinta Rosul.
 
Anak-anak tahunya Cinta Rosul adalah judul lagunya Sulis, seakan-akan ingin mengajarkan bahwa cinta Rosul itu dilakukan dengan cara menyanyi, atau melantunkan sholawat-sholawat yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi, seperti: Sholatullah salamullah ‘ala Yaasin habibillah dst…
 
Adapula yang mewujudkan cinta Nabi dengan membaca syair sejarah kelahiran Rosulullah, bahkan sampai-sampai mereka wajibkandalam acara pernikahan ataupun sunatan. Padahal syair ini baru ditulis sekitar 1000 tahun setelah wafatnya Nabi, itupun kebanyakan yang baca dan yang dengar tidak paham artinya…!!! Lalu gimana bisa mengenal Nabi kalau begitu keadaannya.
 
Ada lagi yang mewujudkan cinta Nabi dengan mengadakan acara peringatan tahunan yang katanya juga dalam rangka cinta Nabi. Namun, telah bertahun-tahun diadakan bahkan ada yang sudah puluhan tahun melaksanakannya, tapi tetap saja ia tidak mengenal Nabi… sebagai contoh kecil kita bisa tanyakan kepada kaum Muslimin mulai dari anak-anak sampai orang dewasa hampir semua tidak mengenal bagaimana sejarah Nabi, ciri-ciri Nabi, siapa nama panjang Nabi, nama istri-istri Nabi, anak-anak Nabi, nama-nama sahabat Nabi dst…
 
Jadi bila anda ingin mencintai Nabi, maka tirulah cara para sahabat mengekspresikan cinta mereka kepada Nabi, karena para sahabat adalah orang-orang yang paling cinta kepada Nabi. Pelajarilah bagaimana mereka mewujudkan cinta mereka kepada Nabi…
Sepenggal Kisah Pecinta Nabi

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *