Rumah bukan sekedar tempat tinggal, namun rumah adalah tempat untuk merasakan kenyamanan. Ketenangan dan kenyamanan di rumah kita sangat ditentukan oleh perasaan lapang dan qanaah penghuninya. Merasa cukup dengan apa yang ada adalah kekayaan yang tidak terhingga. Orang paling kaya adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Siapa diantara kalian yang ketika pagi harinya diberi kondisi aman, sehat badan, dan ia memiliki makanan yang ia bisa makan hari itu, maka seakan-akan orang tersebut memperoleh dunia dan seisinya(HR. Tirmidzi no. 2346)

Anda bisa melihat bagaimana praktisnya memperoleh ketenangan, ketentraman, kenyamanan, dan kekayaan. Intinya merasa cukup dengan apa yang ada.

Rumah Adalah Nikmat

Allah ‘azza wa jalla telah memberikan kepada kita segala keperluan kita untuk bisa bertahan hidup dan beribadah kepadaNya. Sandang, papan, dan pangan adalah tiga hal yang dibutuhkan oleh manusia di kehidupan ini. Di edisi ini kita akan membahas tentang “papan” atau tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan sekaligus nikmat yang besar dari Allah subhanahu wata’ala. Allah berfirman,

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal” (QS. An Nahl: 80)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah ta’ala menyebutkan nikmatNya yang sempurna yang diberikan kepada hambaNya, yaitu Allah telah menjadikan rumah-rumah sebagai tempat tinggal mereka. Mereka pulang ke rumah, berteduh, dan memanfaatkannya untuk berbagai manfaat” (Tafsir al Qur’anil Adzim)

Demikian besarnya nikmat tempat tinggal bagi seorang hamba. Tentu seharusnya ini membuat mereka semakin dekat dengan Allah ta’ala yang telah menganugrahi nikmat besar ini. Dengan adanya rumah, kita bisa beristirahat, kumpul dengan keluarga, beribadah di rumah, menyimpan rahasia rumah tangga, merasakan kenyamanan dan ketenangan.

Rumah Benteng Wanita

Wanita adalah ujian terbesar bagi kaum laki-laki. Karena tidak ada ujian terbesar yang Allah turunkan kepada kaum laki-laki sepeninggal Rasulullah melebihi cobaan wanita. Rasulullah bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidak ada fitnah yang aku tinggalkan setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki kecuali wanita” (HR. Bukhari, Muslim)

Karena itulah, maka rumah adalah anugrah Allah untuk para wanita menjaga dirinya, menjaga kehormatannya, dan menjaga agar tidak membuat fitnah dan kejelekan di tengah manusia dengan dandanan ala jahiliyah. Rumah adalah benteng terkuat bagi wanita untuk melindungi mereka dari kejelekan. Allah ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى

Dan hendaklah kamu (para wanita) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu(QS. Al Ahzab: 33)

Ayat ini adalah nasehat dari Allah untuk para wanita agar menjadikan rumah mereka sebagai tempat tinggal. Inilah bentuk penjagaan Allah terhadap kehormatan wanita.

Menjaga Nikmat

Rumah adalah nikmat yang sangat besar dan sesuatu yang harus dijaga. Sebagai sebuah nikmat yang Allah tidak berikan kepada semua orang. Tidakkah kita melihat sebagian saudara kita yang tidak memiliki rumah. Mereka pindah dari satu rumah ke rumah yang lain, terkadang sebagian mereka tinggal di bawah kolong jembatan, di bantaran sungai, di gerobak-gerobak dorong dengan rumah yang terbuat dari barang-barang bekas dan karton-karton kumuh serta ukuran yang sangat kecil. Rumah-rumah mereka tak mampu menahan dan melindungi mereka dari panas dan dinginnya udara, kencangnya angin, dan terjangan air.

Ini semua membuat kita harus banyak bersyukur kepada Allah walau hanya memiliki rumah yang sederhana. Selalu menengok ke bawah dan tidak selalu melihat ke atas. Rasulullah shallallahu ‘ala ini wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan selalu melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (Muttafaq Alaihi)

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah), tatkala Rabb kalian memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Ayat dan hadits ini memberi peringatan kepada kita untuk selalu bersyukur dan melihat orang yang lebih menyedihkan keadaannya dari kita dalam hal rumah dan kehidupan. Itu semua akan membuat kita semakin mampu bersyukur kepada Pemberi nikmat.

Bagaimana Cara Mensyukurinya ?

Mensyukuri nikmat tempat tinggal atau rumah merupakan sebuah usaha yang akan menambah nikmat tersebut. Lalu bagaimana cara mensyukurinya ?

Mensyukuri nikmat berupa tempat tinggal adalah dengan menjadikan rumah sebagai tempat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Diantara usaha tersebut adalah menjadikan rumah sebagai tempat untuk ibadah. Beribadah di rumah dengan cara membaca al Qur’an di dalamnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘ala ini wasallam

 لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ ؛ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, karena sungguh syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan surah al Baqarah di dalamnya” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad)

Menjadikan rumah sebagai kuburan ketika rumah tidak dijadikan sebagai tempat berdzikir, membaca al Qur’an, shalat, dan amalan ibadah yang lainnya.

Demikian pula rumah sebagai nikmat kita manfaatkan untuk memahamkan agama dan mendidik anggota keluarga dengan pendidikan Islam. Belajar membaca al Qur’an, belajar shalat, dan ibadah lainnya. Tugas orang tua adalah bagaimana mereka bisa membentengi anak-anak mereka dengan ilmu agama di rumahnya sebagai bekal untuk kehidupan mereka di luar rumah. Rasulullah shallallahu ‘ala ini wasallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham ilmu agama” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika kita ingin memperoleh kebaikan keluarga maka pahamkan kepada seluruh anggota keluarga ilmu agama. Ilmu agama akan memperbaiki keadaan, suasana, dan keharmonisan keluarga. Kebaikan keluarga bukan diukur dengan banyaknya perabot dan kekayaan. Karena ketika anggota keluarga paham agama, maka mereka akan menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah di dalam keluarga, dan sebaik-baik petunjuk dan bimbingan adalah sunnah Rasulullah.

Sumber: Buletin dakwah Madrosah Sunnah edisi 55 tahun ke-2, Jumadil Tsani 1438 H.

tes

Rumahku Adalah Surgaku

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:                    

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *