makna syahadat1

Menjadi umat Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan nikmat yang besar dan anugerah yang agung bagi seseorang. Sebab Allah -Ta’ala- telah melebihkan umat ini dari umat para Nabi dan Rasul terdahulu. Dimana umat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah umat terbaik yang Allah -Ta’ala- telah keluarkan untuk manusia. Allah -Subhana wa Ta’ala- berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,….” (QS. Al-Imron: 110)

Kebaikan Allah -Ta’ala- kepada umat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- semakin sempurna tatkala Allah -Ta’ala- telah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhai-Nya. Allah -Ta’ala- berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Akan tetapi, banyak dari kaum muslimin yang justru berusaha lari dari kemuliaan yang besar ini. Mereka merasa malu jika berada di atas sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- , mereka merasa tidak butuh dengan petunjuk dan pedoman yang telah diberikan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. sehingga ajaran dan sunnah Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi kian terasing dalam umatnya sendiri.

Tentu hal ini disebabkan karena kejahilan mereka akan makna dan kandungan syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”.

Pembaca yang budiman, setiap Syahadat yang kita ucapkan memiliki konsekwensi dan kewajiban yang harus ditunaikan. Sebab barangsiapa yang tidak menjalankan konskwensinya, maka syahadat itu tidak akan bermanfaat dan diterima.

Oleh karenanya seseorang tidak akan mampu menjawab pertanyaan dua malaikat di kubur nanti tentang nabi yang diutus kepadanya melainkan orang yang menunaikan keharusan dan konsekwensi dari syahadatnya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .

Adapun konsekwesi dari syahadat”Anna Muhammadan Rasulullah” adalah:

  1. Menaati segala apa yang diperintahkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-

Menaati segala perintah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan Kewajiban yang pertama yang harus ditunaikan orang yang mempersaksikan kerasulan Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah -Ta’ala- telah menetapkan hal tersebut di dalam Al-Qur’an. Allah -Ta’ala- berfirman,

“dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfaal: 1)

Menaati Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan syarat keimanan yang Allah -Ta’ala- telah tetapkan bagi seorang hamba. Akan tetapi jika seseorang tidak mau menaati perintah dan petunjuk Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka kelak ia akan mendapatkan adzab yang pedih. Allah -Ta’ala- berfirman,

“dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS.An-Nisaa: 14)

Oleh karena itulah orang-orang yang tidak mau menaati Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan orang-orang yang tidak ingin masuk ke dalam Surga. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk ke dalam Surga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya,”wahai Rasulullah, siapakah yang enggan? Maka Rasulullah menjawab”Siapa yang mentaatiku maka dia masuk surga, dan barang siapa yang mendurhakaiku maka merekalah yang enggan”. [HR. Al-Bukhari (7280)]

  1. Membenarkan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .

Membenarkan segala kabar dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan konsekwensi dari persaksian kita bahwa Beliau adalah Rasul Allah -Ta’ala-. Sebab apa yang disampaikan merupakan wahyu dan kebenaran yang mutlak. Allah -Ta’ala- berfirman,

“dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”(QS. An-Najm: 3-4)

Maka meragukan apa yang disampaikan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan penyelisihan dari makna persaksiannya bahwa Beliau adalah Rasul Allah -Ta’ala-. Oleh karena itulah, hanyalah orang-orang yang bertaqwa yang membenarkan segala yang datang dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Allah -Ta’ala- berfirman,

“dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)

  1. Melaksanakan segala yang diperintahkannya dan Menjauhi segala apa yang dilarang.

Termasuk konsekwensi syahadat kita kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Sebab, hal itu merupakan bukti dari ketaatan kita  dan keimanan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . barangsiapa yang mengaku sebagai umat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan tetapi tidak mau menaati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka ia serupa dengan orang-orang munafiq di zaman Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . oleh karenanya, Allah -Ta’ala- memerintahkan kita untuk menyelisihi kaum munafiq dengan mentaati apa yang diperintahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Allah -Ta’ala- berfirman,

“apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah..” (QS. Al-Hasyr: 7)

Maka mentaati Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- selalu dikaitkan dengan ketaqwaan seseorang kepada Allah -Ta’ala- . sebab barang siapa yang mentaatinya mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Karena itulah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُم

“Apa yang aku larang kalian darinya maka tinggalkanlah, dan apa yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian” [HR. Muslim(1337)]

  1. Tidak beribadah kepada Allah -Ta’ala- melainkan dengan syariat rasulullah, berhukum dengannya serta ridha dengan segala yang diputuskannya.

Hal itu merupakan konsekwensi dari syahadat kita kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . sebab Allah -Ta’ala- tidaklah mengutus beliau melainkan untuk menunjukkan manusia jalan yang menyampaikan kepada Allah -Ta’ala-. Allah -Ta’ala- berfirman,

“dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (yaitu) jalan Allah” (QS. Asy-Syuraa: 52-53)

Maka barangsiapa yang tidak berhukum dengan syariatnya dan tidak mau beribadah dengan petunjuk yang ditelah digariskan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- maka mereka itulah orang-orang yang tertipu dan tersesat.

Oleh karenanya, kewajiban kita adalah berhukum dengan syariat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan ridha atas keputusannya jika kita mengaku diri sebagai umat beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65)

Sumber: Buletin Dakwah Madrosah Sunnah

ingin berlangganan ?

Hub: 0852-5597-4201

MENGENAL MAKNA SYAHADAT -MUHAMMADDAN RASULULLAH-

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:            

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *