Setelah kita memahami bahwa tidaklah Allah menciptakan para makhluk melainkan untuk mentauhidkan-Nya dan dosa yang tidak termaafkan di sisi Allah -Azza Wa Jalla- adalah kesyirikan, maka wajib bagi kita untuk mendakwakannya kepada manusia terutama kepada orang-orang yang kita cintai seperti keluarga, sanak saudara dan karib kerabat. Sebab Allah -Azza Wa Jalla- telah memerintahkan kita untuk menjaga dan melindungi mereka dari adzab Allah -Azza Wa Jalla- . Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, …” (At-Tahrim: 6)

Mujahid rahimahullah berkata ,“Bertakwalah kepada Allah, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla ”[Tafsir Ibnu Katsir (8/167) – As-Syamilah]

 

DAKWAH PARA RASUL

Sesungguhnya para rasul memiliki misi yang sama dari Allah -Subhana Wa Ta’ala- , yaitu untuk mendakwakan tauhid kepada umat mereka. Agar manusia bisa kembali berada di jalan yang lurus dan menjauh dari jebakan dan tipu daya setan yang mengajak kepada kesyirikan dan kesesatan. Lihatlah bagaimana dakwah Nabi Nuh ‘alaihis salaam,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 59).

Lihat pula bagaimana dakwah Nabi Hud ‘alaihis salaam,

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Dan kepada kaum ‘Aad, Kami utus saudara mereka yaitu Hud. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 65).

Lihatlah dakwah Nabi Shalih ‘alaihis salaam,

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 73).

Lihat pula dakwah Nabi Syu’aib ‘alaihis salaam,

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al A’raaf: 85).

Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja.” (QS. Al Mumtahanah: 4).

demikianlah dakwah segenap Rasul untuk meluruskan aqidah dan mentauhidkan Allah -Azza Wa Jalla- . Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…” (QS. An-Nahl: 36 )  

Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah -Subhana Wa Ta’ala- .

 

BERDAKWAH DI ATAS ILMU

Ilmu merupakan syarat utama bagi seorang da’i. Tanpa ilmu maka ia seperti seorang prajurit yang akan mati konyol di peperangan. Sebab medan dakwah seperti medan perang. Seorang prajurit harus mempersiapkan tameng dan senjatanya bahkan segala apa yang dia butuhkan di medan tempur. Tanpa senjata, maka ia akan menjadi binasa dan sasaran empuk bagi musuhnya.

Begitu pula seorang da’i, sebelum terjun ke medan dakwah, harus mempersiapkan senjatanya berupa ilmu syar’i. Untuk melawan dan menepis serangan dari musuh-musuh dakwah dan islam. Berupa pemikiran dan propaganda yang melenceng dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya serta menyelisihi jalan para sahabat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .

{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ }

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan Bashiroh (hujah yang nyata), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS. Yusuf: 108 )

Karena itulah, sebelum kita menjadi da’i ilallah dan mendakwahkan tauhid maka wajib bagi kita untuk mempelajari dahulu apa yang akan kita dakwakan. Sebab inilah yang Allah -Azza Wa Jalla- perintahkan kepada kita seluruhnya. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah (berilmulah), bahwasanya tidak ada yang sesembahan yang haq kecuali Allah dan mohonkanlah ampunan untukmu dan untuk kaum beriman laki-laki maupun wanita”. (Q.S Muhammad: 19).

 

AYO BERDAKWAH !

Berdakwah merupakan amalan yang besar lagi mulia. Sebab amalan ini mengajak manusia pada kebaikan dan memperingatkan dari kejelekan. Mengajak manusia untuk mengenal dan kembali kepada pencipta dan pemelihara mereka yaitu Allah -Subhana Wa Ta’ala- . oleh karenanya, Allah -Azza Wa Jalla- memuji orang-orang yang berdakwah di jalan-Nya. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fussilat: 33)

Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah orang yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, (12/240)]

Barangsiapa yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah -Azza Wa Jalla- dan mengajak manusia untuk beramal sholih seperti yang dilakukan para muadzin ketika adzan atau yang mengajak kepada amalan sholih yang lainnya maka ia termasuk da’i ilallah dan akan mendapatkan pahala yang besar. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً.

“Barangsiapa yang mengajak menuju hidayah maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tapi tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala-pahala mereka ...” [HR. Muslim (2674)]

Hadits ini merupakan motivasi bagi kita untuk semangat dalam mendakwakan kebaikan. Entah dengan amalan, lisan maupun tulisan. Karena setiap amalan yang dilakukan oleh orang yang kita ajak maka kita mendapatkan limpahan pahala tanpa mengurangi pahala kebaikannya sedikitpun. Tentu ini merupakan kebaikan yang sangat besar dengan menimbang bahwa kesempatan keberadaan kita di dunia ini adalah untuk mengumpulkan kebaikan dan pahala sebanyak-banyaknya guna menjadi bekal menghadap kepada Allah -Azza Wa Jalla- .

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi Oktober Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

MENDAKWAKAN SYAHADAT LAA ILAAHA ILLALLAH

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:    

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *