ARTI SEBUAH KETAATAN

Diantara tafsir tauhid dan persaksian لا إله إلا الله  adalah menjadikan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- satu-satunya yang ditaati dalam perkara yang Allah -Ta’ala- telah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya.

Pembaca yang mulia, Sesungguhnya Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya serta tunduk dan patuh kepada hukum-Nya. Jika Ia memerintahkan sesuatu maka wajib ditaati dan jika Ia melarang dari sesuatu maka wajib ditinggalkan. Karena itulah hakekat dari sebuah ketaqwaan kepada sang pencipta. Oleh sebab itu, sungguh sebuah kekeliruan yang besar jika ada seseorang yang merasa bahwa ia boleh hidup bebas tanpa aturan dari Dzat yang telah menciptakannya. Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?(Al Qiyamah:36)

Syaikh Abu Bakar Al Jazaairy –rahimahullah- menjelaskan  maksud ayat di atas, “(mereka mengira) dibiarkan begitu saja sia-sia tanpa diberi beban syariat di dunia dan tidak dihisab dan diberi balasan di akherat.” [Lihat Aysarut Tafasir, (5/479) Syamilah]

HUKUM HANYALAH MILIK ALLAH

Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa manusia hidup di bawah aturan dan hukum Allah -Azza Wa Jalla-. Tidak pantas bagi seorang pun untuk menolak atau merubah hukum yang Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- telah tetapkan disebabkan oleh hal berikut:

  1. Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta) segala sesuatu, milik-Nya lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam”. (QS. Al-A’raf: 54).

  1. Allah adalah Ar-Raziq (Sang Pemberi rezki), yang telah memberi rezki kepada seluruh makhluk-Nya. Allah -Subhanahu Wa Ta’ala- berfirman,

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Aku [Allah] tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh” (QS. Adz-Dzâriyât: 57-58)

Oleh karena itulah, mengharuskan hukum itu hanyalah milik Allah -Azza Wa Jalla- semata sebagai konsekwensi dari Tauhid. Seorang hamba wajib tunduk dan patuh kepada aturan yang telah ditetapkan Allah -Subhanahu Wa Ta’ala-.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus” (QS. Yusuf: 40)

KELANCANGAN HAMBA

Kewajiban seorang hamba adalah mentaati perintah Rabbnya. Ia menghalalkan apa yang dihalalkan Allah -Ta’ala- dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya.  Jika seorang hamba menghalalkan apa yang Allah -Ta’ala- haramkan maka ia telah melampaui batasnya dan orang yang mengikutinya telah menjadikan ia sebagai Rabb (tuhan) selain Allah -Subhana wa Ta’ala-. Allah -Azza Wa Jalla-  berfirman,

 اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah–Ta’ala- dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31)

Ayat ini berkenaan dengan ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Dimana sekelompok orang dari mereka meminta nasehat kepada ulama dan ahli ibadah mereka. Mereka pun mentaati para ulamanya dalam menghalalkan sesuatu yang Allah -Ta’ala- haramkan dan mengharamkan apa yang Allah -Ta’ala- halalkan. Walaupun mereka mengetahui bahwa hal itu menyelisihi hukum yang Allah -Subhana wa Ta’ala- telah tetapkan akan tetapi mereka tetap mentaatinya karena mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka.

Hal tersebut dijelaskan dengan gamblang oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada sahabat ‘Adi bin Hatim -Rhadiyallahu anhu-. Beliau adalah seorang yang beragama Nashrani sebelum masuk ke dalam Islam. Beliau -Rhadiyallahu anhu- berkata,

“Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan pada leherku terdapat (kalung) salib yang terbuat dari emas dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an, yang artinya),

“orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah”.

‘Adi bin Hâtim berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya, akan tetapi orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, lalu merekapun menganggapnya halal. Dan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu merekapun menganggapnya haram. Itulah peribadahan mereka kepada para alimnya dan rahib-rahib mereka”. [HR. al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra, (1/166)]

Jadi Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits tersebut menafsirkan bahwa maksud “menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” bukanlah maknanya ruku’ dan sujud kepada mereka. Akan tetapi maknanya adalah mentaati mereka dalam mengubah hukum Allah dan mengganti syari’at Allah dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Perbuatan tersebut dianggap sebagai bentuk beribadah kepada mereka selain kepada Allah -Ta’ala-, dimana mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah tersebut sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam masalah menetapkan syari’at. [Lihat, Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad oleh Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah  (94-95), Daarus Shahabah]

Maka barangsiapa yang mentaati seseorang dalam menyelisihi perkara yang menjadi kekhususan Allah -Azza Wa Jalla- yaitu tentang penghalalan dan pengharaman, maka sungguh dia telah menjadikan mereka sebagai sekutu-sekutu bagi Allah dalam menetapkan syari’at dan ini adalah syirik besar. Oleh karena itulah di akhir ayat tersebut, Allah -Azza Wa Jalla- menyucikan dirinya dari perbuatan tersebut berupa kesyirikan kepada-Nya.

 

FAEDAH YANG DAPAT DIPETIK:

  1. Diantara makna tauhid dan persaksian laa ilaaha illallahu adalah mentaati Allah -Azza Wa Jalla- dalam perkara halal dan haram.
  2. Barangsiapa yang mentaati makhluk dalam menghalalkan apa yang Allah -Ta’ala- haramkan dan sebaliknya, maka sungguh ia telah menduakan Allah -Azza Wa Jalla-.

[Lihat, Al-Mulakhkhos fii Syarhi Kitabut Tauhid (65) oleh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan – hafizhahullah -]

 

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi Januari Tahun II. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

 

MEMURNIKAN KETAATAN KEPADA ALLAH

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:            

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *