Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. { QS. Al-Ahzab: 21 }
 
Namun, ternyata sebagian kaum Muslimin ada yang dengan terang-terangan menghina seseorang yang ingin meniru Nabi -shallallhu ‘alaihi wasallam, sehingga tanpa sadar mereka telah meremehkan  ajaran Nabi -shallallhu ‘alaihi wasallam-. Contohnya orang yang mengatakan bahwa berjanggut itu kotor, padahal ia tidak menyadari bahwa Rasulullah -shallallhu ‘alaihi wasallam janggutnya lebat bahkan memerintahkan untuk memeliharanya. Oleh karena itu pada edisi ini kami membahas figur sang teladan yang mulia Rosulullah  -shallallhu ‘alaihi wasallam.
 
Nama-Nama Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-
Allah -subhanahu wata’ala- berfirman: 

 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ
{Muhammad adalah Rasulullah} {QS. al-Fath:29}.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al Muqaffy (Nabi terakhir) dan Al Hasyir, saya Nabi At Taubah, Nabi Ar Rahman.” (HR. Muslim)  “Namailah diri kalian dengan nama-nama saya, tapi janganlah kalian berkuniah (nama panggilan) dengan nama panggilan saya (yaitu Abul Qosim). Karena sesungguhnya saya adalah Qasim sebagai pembagi diantara kalian.” (HR. Muslim)


Ciri-Ciri Fisik Nabi : Dari sahabat Nabi al-Barra’ bin ‘Azib -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.(HR. Bukhari). Dari sahabat Nabi Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah r pada bulan purnama. Saya memandang beliau sambil memandang bulan. Beliau mengenakan pakaian merah. Maka menurut saya beliau lebih indah daripada bulan.”(HR. Tirmidzi).  “Apabila beliau memakai celak, beliau melakukannya dengan bilangan ganjil (H.R. Ahmad). 
 
Wajah Rasulullah : sahabat Nabi Abdullah bin Salam -radhiyallahu ‘anhu- masuk Islam karena melihat wajah Nabi r, ia menceritakan: “Dan ketika kulihat wajah beliau, aku berkata: “Sungguh tampangnya tak menandakan wajah pendusta…”, (HR. Ahmad) Berkata sahabat Nabi Abu Thufail -radhiyallahu ‘anhu-  “Bahwasanya Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam – berkulit putih dan berwajah tampan” (HR. Muslim).  “Adalah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bila gembira wajahnya bercahaya seperti bulan purnama.” (HR. Bukhari)
 
Tanda Kenabian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Sesungguhnya Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memiliki sebuah tanda yang menunjukkan tanda seorang Nabi,  sahabat Nabi Jabir bin Samurah -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku melihat tanda kenabian di antara kedua pundak Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebuah gumpalan daging berwarna merah seperti telur burung merpati”.(HR. Muslim)
 
Rambut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Berkata sahabat Nabi Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-: Pada awalnya beliau biasa mengguraikan rambutnya karena mengikuti ahlul kitab(yahudi dan Nashrani), tapi dikemudian hari beliau membelah dua rambutnya (HR.Bukhari)   Berkata sahabat Nabi al-Barra’ -radhiyallahu ‘anhu- “… rambut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sampai di ujung bawah telinganya, saya  pernah melihatnya berpakaian merah, dan saya tidak pernah melihat yang lebih tampan dari padanya.” (HR. Bukhari) dalam riwayat lain disebutkan: “…beliau memiliki rambut yang (panjangnya) terurai sampai kepundak, kedua pundaknya lebar…” (HR. Bukhari) 
Dari istri Nabi ‘Aisyah رضي ا لله عنها berkata: “…rambut Rasulullah r di atas pundak dan (sisi-sisinya) di atas telinga bagian bawah (HR. Abu Dawud). Berkata sahabat Nabi Anas bin Malik  -radhiyallahu ‘anhu- Rambut Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berombak (ikal), tidak lurus dan tidak keriting, panjangnya antara telinga dan bahu. (HR. Bukhari)
 
Jenggot Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Berkata sahabat Nabi Jabir -radhiyallahu ‘anhu- “Sesungguhnya Rasulullah lebat jenggotnya”. (HR Muslim). Dari sahabat Nabi Umar -radhiyallahu ‘anhu- ia berkata:  Sesungguhnya Rasulullah lebat jenggotnya, di riwayat yang lain tebal jenggotnya dan di lain riwayat subur jenggotnya”. (HR at Tirmidzi). Sahabat Nabi Anas t berkata: “Jenggot Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memenuhi sebelah sini dan sebelah sini. Anas lalu memberi isyarat dengan tangannya di pipinya.” (HR. Ibnu Asakir dalam tarikhnya).  “Rambut yang putih (uban) di kepala dan di jenggot (Nabi Muhammad r) tidak melebihi dua puluh helai”. (HR al-Bukhari)
 
Wanginya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Sahabat Nabi Anas -radiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, aku juga tidak pernah mencium suatu aroma, minyak (wangi) misk atau bau apun yang lebih harum dari bau dan aroma Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- (HR. Bukhari).  Sahabat Nabi Abu Juhaifah t berkata: “…tangan beliau sedingin es dan lebih harum daripada minyak (wangi) misk (HR. Bukhari).
 
Pakaian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-:Pakaian yang paling disukai Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah qomish (jubah sampai setengah betis)”. (HR. Abu Daud). Sahabat Nabi Amru Ibn Harits -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku melihat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkhutbah di atas mimbar, Rasulullah memakai sorban berwarna hitam yang kedua ujungnya tergerai di (ditengah-tengah) antara kedua pundaknya (HR. Muslim). Sahabat Nabi ‘Ubaid Ibn Khalid al-Muharibi -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Aku melihat (ujung) kain pakaian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang hanya sampai ke pertengahan ke dua betisnya( HR. Ahmad) .
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memegang tulang betisnya seraya bersabda kepada Hudzaifah t: “Inilah (batas) tempat kain, jika engkau tidak mau maka lebih ke bawah lagi, jika engkau tidak mau maka tidak boleh bagi kain (menutup) kedua mata kaki”.(HR. Tirmidzi)
 
Tertawanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Biasanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bila gembira wajahnya bercahaya seperti bulan purnama”. (HR. Bukhari). Sahabat Nabi Abdullah ibn al-Harits ibn Jaza -radhiyallahu ‘anhu- “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- (HR. Tirmidzi). Aisyah رضي ا لله عنها berkata “… tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari)
 
Perkataan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- :  “Adalah ucapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, ucapan yang jelas dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya.  Istri Nabi Aisyah berkata “yang menyimak (pembicaraannya) akan langsung menghafalnya” (HR. Bukhari)
 
Doa yang sering dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam
 
Sahabat Nabi Anas -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Doa yang paling banyak dibaca oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yaitu
 
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya AllahTuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (HR. Bukhari
Akhlaq Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Hisyam bin Amir bekata “Wahai Ummul Mu’minin (julukan istri-istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-), beritahukanlah kepadaku tentang akhlaq Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-?” Aisyah menjawab: “Bukankah engkau membaca Al-Qur’an?” Hisyam menjawab: “Iya”, kemudian ‘Aisyah berkata: “Akhlaq Rasulullah adalah Al-Qur’an” (HR.Muslim
 
Mimpi bertemu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: Dari  Yazid al-Farasi ia berkata kepada sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- Ibn Abbas: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam mimpiku”. Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu- menjawab: “Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya setan tidak bisa mengubah dirinya seperti aku, barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia benar-benar telah melihatku” Apakah engkau bisa sebutkan ciri-ciri orang yang kau lihat dalam mimpi? maka ia berkata: “…kulitnya berwarna coklat agak putih, kedua matanya bercelak, senyumnya menawan, bentuk wajahnya indah, janggutnya memenuhi leher bagian depan.‘Auf mengatakan: ‘Aku tidak tahu ciri apa lagi yang harus kusebutkan. Ibn Abbas berkata: “Jika seandainya engkau melihat Rasulullah dalam keadaan sadar (tidak mimpi), maka engkau tidak akan sanggup menyebutkan ciri-ciri Rasulullah lebih dari itu. (HR. Ahmad). Banyak orang-orang yang membuat amalan-amalan baru yang tidak ada contohnya dari Nabi r dengan alasan bahwa amalan itu diajarkan Rasulullah r di dalam mimpi, seperti sholawat dan dzkir-dzikir, padahal yang mereka lihat itu adalah jin yang tidak bisa menyerupai Nabi r tapi bisa berdusta mengaku Nabi r, ini semua dikarenakan mereka tidak mengenal sifat fisik dan pribadi Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Sehingga bila seseorang mengaku bermimpi bertemu Rasulullah lalu bercerita bahwa Rasulullah memerintahkan ini dan itu yang berkaitan dengan hukum syariat, jelas itu adalah dusta. Karena setelah beliau wafat, syariat Islam telah lengkap dan tidak ada lagi wahyu yang turun tentang perintah syari’at, karena agama ini telah sempurna, sebagaimana firman Allah -Subhanahu wata ‘ala- :{…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…” } [QS. Al-maaidah: 3.
 
Berkata Dzun Nun al-Mishri: “Termasuk dari tanda kecintaan seseorang kepada Alloh -subhanahu wata’ala- ialah mengikuti kekasih-Nya (yaitu) Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- baik dalam akhlaq, perbuatan, perintah-perintah maupun sunnah-sunnahnya. (Risalah al-Qusyairiyah (1/75
 
Alloh Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (wahai Nabi): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku(Nabi), niscaya Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[QS. Ali-Imran: 31
 
Berkata al-Hasan al-Bashri: “Tanda kecintaan mereka kepada Alloh adalah mengikuti sunnah Rosul-Nya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya 2/204). Wallahu a’lam

Sumber : Booklet Assunah kolaka -Sulawesi Tenggara-
Lebih Indah Dari Bulan Purnama

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *