Siapa yang tidak kenal dengan ulama yang satu ini. ya..ulama yang mashur dengan tulisan-tulisan beliau yang banyak dikaji oleh setiap kalangan dari kaum muslimin. Ilmu dan namanya bak kasturi semerbak tercium oleh setiap insan. Beliau adalah Imam Nawawiy -rahimahullah-. Selamat membaca kisahnya !
 
Nasab Dan Kehidupannya
Beliau adalah Yahya bin syarf bin murri bin hasan bin Husain bin hizam annawawiy asy syafi’i abu zakariya muhyiddin.
Annawawiy –rahimahullah- dilahirkan di desa Nawa di daerah hauran sebelah selatan damaskus (suria) pada bulan Muharram tahun 631 H. Beliau adalah syaikh madzhab syafi’i dan seorang ahli fikih yang besar pada zamannya. Allah –subnahahu wata’ala- menanamkan kedalam hati beliau sejak kecil kecintaan kepada agama dan ilmunya sehingga beliaupun mengafal al Qur’an. Berkata Syeikh Yasin bin Yusul almarakisyi :”aku melihat Syeikh Muhyiddin (annawawiy)-ketika itu beliau berumur 10 tahun- di desa nawa dan teman-teman sebayanya sedang bermain-main, maka beliau tidak suka bermain bersama mereka. Beliaupun lari meninggalkan mereka sambil menangis. Lalu annawawiy membaca alqur’an pada waktu itu sehingga muncullah rasa cintanya kepada alqur’an. Awalnya orangtua beliau menyuruh beliau menjaga toko, namun kemudian orangtua beliau menjadikan beliau tidak lagi sibuk dengan jual beli sehingga melalaikan alqur’an.

Beliau menghafal alqur’an sebelum baligh, menghafal kitab Tanbih dan beberapa kitab madzhab (syafi’iyah) yang ditulis oleh Asy Asyairaziy” (Lihat Kitab Mausu’ah mawaqifis salaffil ‘aqidah wal manhaj wat tarbiyah oleh Abu Sahl Muhammad bin abdulrahman al Maghrawiy 7/403-404). Dorongan orangtua beliau untuk menuntut menuntut ilmu meberikan pengaruh yang demikian besar dalam kehidupan ilmiyah beliau.

Perjalanan Mencari Ilmu
Pada usianya yang ke-19 tahun, sang ayah melihat lingkungan di Nawa sudah tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan ilmu anaknya. Maka sang ayah memutuskan untuk membawanya ke madrasah ar-Rawahiyyah di pojok timur Masjid Al-Jami’ al-Umawiy di Damaskus. Ketika itu Damaskus merupakan salah satu daerah yang menjadi pusat ilmu.

Beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Selama 2 tahun di sana ia senantiasa belajar siang dan malam, ia tidak tidur kecuali karena tertidur. Dan waktu-waktunya ia habiskan untuk mendalami ilmu dan menghafal berbagai kitab.

Imam Nawawi menceritakan tentang dirinya sendiri, ia berkata “Ketika usiaku telah mencapai 19 tahun, ayahku memboyongku pindah ke Damaskus pada saat beliau (ayahnya) berusia 49 tahun. Di sana aku belajar di Madrasah Rawahiyyah. Selama kurang lebih 2 tahun di sana, aku jarang tidur nyenyak; penyebabnya, tidak lain adalah karena aku sangat ingin mendalami semua pelajaran yang diberikan di Madrasah tersebut. Aku pun berhasil menghafal At-Tanbih (red: at-Tanbiih fii Furuu’isy-Syaafi’iyyah, karya Abu Ishaq asy-Syirazi) kurang lebih selama 4,5 bulan. Selanjutnya, aku berhasil menghafal 114 Ibadat (sekitar seperempat) dari kitab Al-Muhadzdzab (red: Al-Muhadzdzab fil Furuu’) di sisa bulan berikutnya dalam tahun tersebut. Aku juga banyak memberikan komentar dan masukan kepada syaikh kami, Ishaq Al-Maghribi. Aku juga sangat intens dalam bermulazamah dengan beliau. Beliaupun lalu merasa tertarik kepadaku ketika melihatku begitu menyibukkan diri dalam semua aktifitasku dan tidak pernah kongkow-kongkow dengan kebanyakan orang. Beliaupun sangat senang kepadaku dan akhirnya beliau mengangkatku menjadi assisten dalam halaqahnya, mengingat jama’ahnya yang begitu banyak.”
Imam nawawi memiliki tiga keistimewaan dalam kehidupan ilmiyahnya setelah berpindahnya beliau ke damaskus :
Pada tahun 649 H Imam nawawiy berpindah ke Damaskus dan tinggal di Madrasah Rawahiyah. Beliau bersungguh-sungguh didalam menuntut ilmu. Imam nawawiy telah merasakan lezatnya menunyut ilmu yang ia tidak dapatkan pada selainnya. Sehingga beliau annawawi jarang meletakkan lambungnya di bumi (tidur). Beliau telah memberikan seluruh waktunya untuk ilmu tapi ilmu cuma meberikan sebagian[1]  Beliau berhasil menghafal beberapa kitab syafi’iyah dalam waktu yang tidak lama, hingga beliau menggapai ilmu dan menjadi tanda dan rujukan  bagi fiqih  syafi’i, ilmu hadits dan bahasa arab. Beliaupun mendapat kepercayaan dari gurunya Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al maghribiy untuk menggantikan beliau di halaqah pelajaran. Lalu beliaupun sibuk mengajar di Darul Hadits asyrafiyah dan yang lainnya. Ini keistimewaan yang pertama.
Kemudian yang kedua adalah keluasan ilmu dan wawasannya. Beliau telah berhasil mengumpulkan berbagai bidang ilmu dan wawasan keagamaan disebabkan kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Sebagaimana penuturan merid beliau ‘Alauddin bin Aththar :”Imam Nawawiy dalam sehari membaca 12 pelajaran kepada guru-gurunya baik pembenaran bacaan atau penjelasan pelajaran. Dua pelajaran pengantar, satu pelajaran muhadzdzab (sopan santun), satu pelajaran gabungan dari dua kitab shahih (Bukhari dan Muslim), satu pelajaran tentang shahih Muslim, satu pelajaran kitab Al-Lam’u oleh Ibnu Jinni dalam pelajaran nahwu, satu pelajaran dalam lshlahul Manthiqoleh Ibnu As-Sikiit dalam pelajaran bahasa, satu pelajaran sharaf, satu pelajaran Ushul Fiqh, dan kadang kitab Al-Lam ‘u oleh Abi Ishaq dan kadang Al-Muntakhab oleh Fakhrur Raazi; dan satu pelajaran tentang Asma’u Rijal, satu pelajaran Ushuluddin, dan adalah beliau menulis semua hal yang bersangkutan dengan semua pelajaran ini, baik mengenai penjelasan kemusykilannya maupun penjelasan istilah serta detail bahasanya”.
Ketiga adalah banyaknya apa yang beliau hasilkan (baca : penulis produktif). Beliau sangat perhatian dalam menulis. Sehingga dalam umurnya yang singkat[2]beliau telah berhasil menulis banyak karya yang dijadikan rujukan oleh para ulama. Ini menunjukkan pada ilmu dan umurnya ada keberkahan.

Usaha Beliau dalam Menyampaikan Ilmu
Ketika usia beliau menginjak 30 tahun beliau mulai aktif menulis. Beliau menuangkan pikiran-pikirannya dalam berbagai buku dan karya ilmiah lainnya yang sangat mengagumkan. Beliau menulis dengan bahasa yang mudah, argumentasi yang kuat, pemikiran yang jelas, dan objektif dalam memaparkan berbagai pendapat para ahli fiqih. Hingga sampai saat ini, karya-karya yang ditulisnya mendapatkan perhatian yang besar dari setiap muslim dan diterima oleh setiap kalangan di seluruh negeri islam. Buku-buku yang beliau tulis sangatlah banyak, insya Allah akan kami sebutkan beberapa karya beliau diakhir tulisan ini.
Kemudian pada tahun 665 H, beliau diberi tugas untuk menjadi guru di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah dan mengelola bidang pendidikan. Saat itu, usianya baru menginjak 34 tahun. Dan beliau mengajar di sana hingga wafat.
Imam an-Nawawi mendapat gaji yang besar dari Madrasah Darul Hadits Al-Asyrafiyyah, tetapi beliau tidak pernah mengambilnya. Beliau mengumpulkannya pada kepala madrasah. Dan ketika telah sampai setahun, beliau menggunakan uang tersebut untuk membeli aset dan mewakafkannya untuk Darul Hadits tempat beliau mengajar atau beliau membeli kitab dan mewakafkannya untuk perpustakaan madrasah.

Akhlak Dan Sifat Beliau

Para penulis biografi sepakat bahwa Imam an-Nawawi adalah seorang pemimpin dalam bidang zuhud, panutan dalam hal wara’, orang yang selalu memberikan pandagan yang bijak di bidang hukum, orang yang bersungguh-sunguh dalam menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta beliau senantiasa memberi nasihat kepada penguasa. 

Beliapun termasuk orang yang senantiasa beribadah di siang dan malamnya. Berikut adalah beberapa sifat dan akhlak beliau :

1. Zuhud

Imam An-Nawawi tidak terlenana dengan kenikmatan dunia, sikap ini dapat terlihat dari sikap beliau yang menolak untuk diberi gaji, karena bagi beliau puncak kenikmatan adalah melalui ilmu yang dipelajarinya.
Beliau menulis dalam Muqadimah Syarh Al-Muhadzdzab -dan ini adalah pesan emas bagi para penuntut ilmu-, “Ketahuilah, apa-apa yang kami sebutkan terkait dengan keutamaan menimba ilmu, sesungguhnya itu semua hanya diperuntukkan bagi orang yang mempelajarinya karena menginginkan wajah Allah ta’ala (ikhlas), bukan karena motivasi duniawi. Barangsiapa yang belajar karena dorongan dunia seperti; harta, kepemimpinan, jabatan, kedudukan, popularitas, atau supaya orang-orang cenderung kepadanya, atau untuk mengalahkan lawan debat dan tujuan semacamnya maka hal itu adalah tercela.
Selain itu yang menarik perhatian adalah bahwa beliau pindah dari sebuah perkampungan sederhana menuju kota Damaskus yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, sedangkan ketika itu usia beliau masih sangat muda dan dalam kondisi fisik yang masih kuat. Meskipun demikian, beliau tidak pernah berpaling untuk memperhatikan semua kesenangan dan syahwat tersebut. Beliau justru membenamkan diri dalam kesungguhan dan kehidupan yang sederhana.

2. Wara’.

Dalam kehidupannya banyak yang menggambarkan kewaraannya. Dan di antaranya adalah beliau tidak mau memakan sayuran yang berasal dari damaskus. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab “Karena di sana banyak tanah wakaf dan kepemilikan yang dikelola oleh orang yang seharusnya dilarang melakukan pengelolaan.” Sedangkan untuk kasus itu, tanah tersebut tidak boleh dikelola kecuali untuk maslahat umum, dan kerja sama yang ada haruslah dalam bentuk kontrak kerja sama dengan sistem masaqat. Dan dalam hal ini banyak ulama berbeda pendapat. Dan karena sifat wara’nya, beliau tidak mau memakan sayuran tersebut.

3. Seorang Alim Penasihat

Dalam diri Imam Nawawi tercermin sifat-sifat alim, suka memberi nasihat, seorang yang berjihad di jalan Allah dengan lisannya, menegakkan kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar. Seorang yang mukhlish dalam memberi nasihat, tidak mempunyai tendensi apapun, seorang yang pemberani, tidak takut celaan di jalan Allah terhadap orang yang mencelanya. Seorang yang mempunyai bayan dan hujjah untuk memperkuat dakwaannya.
Beliau dijadikan rujukan oleh manusia bila mereka menghadapi perkara yang sulit dan pelik, serta minta fatwa kepadanya. Dan beliau menanggapinya serta berusaha memecahkan permasalahannya, seperti ketika berkenaan dengan hukum penyitaan atas dua taman di Syam; ketika Damaskus kedatangan penguasa dari Mesir, dari Raja Bibiris, setelah mereka dapat mengusir pasukan Tartar, maka wakil (pejabat) baitul maal menyangka bahwa kebanyakan dari taman-taman yang berada di Syam tersebut adalah milik negara. Maka sang raja memerintahkan untuk memagarinya, yakni menyitanya.
Maka orang-orang melaporkan hal itu kepada Imam An-Nawawi di Daarul Hadits. Kemudian beliau menulis surat kepada sang penguasa yang dinyatakan di dalamnya sebagai berikut:
“Kaum muslimin merasa dirugikan atas adanya penyitaan hak milik mereka, oleh karena itu mereka menuntut supaya hak milik mereka dikembalikan. Dan penyitaan ini tidak dihalalkan oleh seorang ulama’ pun dari kalangan kaum muslimin. Karena barangsiapa yang di tangannya sesuatu maka dialah pemiliknya, tidak boleh seorang pun merampasnya dan tidak dibenarkan menjadikannya sebagai status miliknya.”
Maka marahlah sang penguasa tersebut terhadap nasihat yang ditujukan kepadanya itu, lalu ia memerintahkan supaya gaji syaikh itu dihentikan dan dicopot dari jabatannya. Akan tetapi orang-orang menyatakan bahwa syaikh itu tidak mendapat gaji dan tidak pula mempunyai jabatan. Akhirnya ketika penguasa itu memandang bahwa tidak bermanfaat lagi surat-menyurat, maka ia pergi sendiri untuk menemui Imam An-Nawawi dan hendak mengumpatnya habis-habisan dan ia ingin mengamuknya. Akan tetapi Allah memalingkan hati penguasa itu dari berbuat yang demikian itu dan melindungi Imam An-Nawawi dari hal semacam itu. Bahkan sang penguasa itu kemudian mencabut penyitaan dan manusia pun dilepaskan Allah dari kejahatannya.

Pujian Ulama

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahmengatakan tentangnya, “Beliau adalah syaikhul madzhab (maksudnya guru besar dalam madzhab Syafi’i) dan ahli fikih besar di masanya.” Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tentangnya, “Beliau adalah ahli fatwa umat ini, syaikhul islam, seorang Hafizh (penghafal hadits) yang cemerlang, salah seorang imam besar dan pemimpin para wali.”
Adz-Dzahabi rahimahullahmengatakan tentangnya, “Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertaqwa, qana’ah, wara, memiliki muraqabatullah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan hamparan beliau hanyalah kulit yang disamak.”
Abul Abbas bin Faraj rahimahullahmengatakan tentangnya, “Syaikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih 3 tingkatan yang mana 1 tingkatannya saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu (yang dalam dan luas).Tingkatan kedua adalah zuhud (yang sangat). Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma’ruf nahi munkar.”
Ibnul Aththar rahimahullahmengatakan tentangnya, “Guru kami An Nawawi disamping selalu bermujahadah, wara’, muraqabah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafidz terhadap hadits, bidang – bidangnya, rijalnya, dan ma’rifat shahih dan dha’ifnya, beliau juga seorang imam dalam madzhab fiqh.”
Ibnul Aththar rahimahulah juga berkata, “Guru kami An Nawawi menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia – nyiakan waktu , tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan beliau terus dalam menelaah dan manghafal.”
Quthbuddin Al Yuniny rahimahullahmengatakan tentangnya, “Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, wara’, ibadah, dan zuhud.”
Syamsuddin bin Fakhruddin Al Hanbaly rahimahullahmengatakan tentangnya, “Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat wara’ dan zuhud.”
Rasyid bin Mu’aliim rahimahullahmengatakan tentangnya, “Syaikh Muhyiddin An Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah – buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur, beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur.”

Wafatnya

Pada tahun 676 H. beliau kembali ke kampung halaman-nya di Nawa. Sebelumnya mengembalikan berbagai kitab yang dipinjamnya dari sebuah badan waqaf, dan  menziarahi makam para guru beliau juga bersilaturrahim dengan para sahabat beliau yang masih hidup. Di hari keberangkatan beliau, para jama’ah yang beliau bina melepas kepergian beliau di pinggiran kota Damaskus, mereka lalu bertanya: “Kapan kita bisa bermuwajahah lagi (wahai syaikh)?” Beliau menjawab: “Sesudah 200 tahun.” Akhirnya mereka paham bahwa yang beliau maksud adalah sesudah hari kiamat.
Beliau berziarah ke makam orang tuanya, Baitul Maqdis, dan makam AI-Khalil (Ibrahim) ‘Alaihissalam. Setelah itu barulah beliau meneruskan perjalanannya ke Nawa. Di sanalah (Nawa) beliau lalu jatuh sakit dan akhirnya wafat pada malam Rabu tanggal 24 Rajab (tahun 676 H.). Ketika kabar wafatnya beliau tersiar sampai ke Damaskus, seolah seantero Damaskus dan sekitarnya menangisi kepergian beliau. Kaum muslimin benar-benar merasa kehilangan sosok Imam An-Nawawi. Penguasa di saat itu, ’Izzuddin Muhammad bin Sha’igh bersama para jajarannya datang ke makam Imam Nawawi di Nawa untuk menshalatkannya. Beliau ditangisi oleh tidak kurang dari 20.000 orang atau 600 keluarga lebih. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat yang luas kepada beliau dan membangkitkan beliau kelak bersama mereka yang telah dikaruniai nikmat yang besar yakni dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin.

Karya Tulisan Imam Nawawi –rahimahullah-
Berikut adalah beberapa kitab yang beliau tulis :
Dalam Bidang Fiqh
1.Al-Majmu’

Kitab ini merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq As-Syirozi. Banyak ulama mengakui dan memuji kitab ini, namun sayangnya kitab ini belum sempat beliau selesaikan, hanya sampai pada penjelasan kitab riba pada jilid ke 9. Namu kitab ini kemudian diteruskan oleh As-Subki sebanyak 3 jilid dan kemudian dilengkapi oleh Sayyid Muhammad Najib Al-Muthi’i

2.Raudhatuth Thalibin

Kitab ini tergolong kitab-kitab besar yang terdiri dari 12 Jilid. Di dalamnya, beliau membahas hukum-hukum As-Syarhul Kabir (karya Imam Rafi’ asy-Syafi’i) berikut penjelasan cabang-cabangnya secara detail dan mengumpulkan sekaligus mengoreksi berbagai cabang permasalahan yang semula berserakan di sana sini: Sehingga kitab ini menjadi rujukan dalam taljih, panduan dalam tash-hih, referensi para cerdik pandai dalam mengeluarkan fatwa, dan acuan para tokoh dalam membahas berbagai persoalan kontemporer.

3. Al-Minhaj

Kitab ini adalah mukhtashar (ringkasan) dari kitab Muharrar, karya Imam Rafi’ Asy-Syafi’i. Kitab ini sangat mashyur (terkenal) dan dijadikan sebagai sandaran dalam mempelajari madzhab Syafi’i.

4. Al-Fatawa

Kitab ini merupakan kumpulan berbagai persoalan yang tidak disusun berdasarkan tema per tema. Kitab ini lalu disusun secara tematis oleh murid beliau Syaikh ‘Alauddin Al-’Aththar dengan tambahan beberapa hal penting yang didengarnya langsung dari beliau.

Dalam Bidang Hadits
1. Syarah Shahih Bukhari
Kitab tidak sempat beliau selesaikan dan baru beliau tulis sebanyak 1 jilid.
2. Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim

Kitab ini adalah kitab syarah Shahih Muslim yang paling besar dan terkenal. Kitab ini terdiri dari 9 jilid dan termasuk karya terakhir beliau.

3. Syaarah Sunnan Abu Dawud
Kitab ini juga tidak selesai.
4. Arba’in An-Nawawi

Kitab ini adalah kitab hadits yang banyak dirokemendasikan oleh ulama, karena di dalamnya termuat berbagai hadits seputar dasar-dasar agama islam yang sangat penting untuk dipelajari, seperti tentang iman, islam, ihsan dan lain sebagainya.

5. Riyadhush Shalihih.

Ini adalah salah satu kitab beliau yang paling terkenal di kalangan kaum muslimin, hampir di setiap masjid-masjid di negeri kaum muslimin kita akan dapati kitab ini.

6. At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir
Dalam Bidang Biografi dan Bahasa Arab
1. Tahdzibul Asma’ wal Lughat

Di dalamnya beliau menulis sejumlah biografi singkat dari ulama-ulama baik laki-laki maupun wanita yang disebutkan di dalam kitab Mukhtasor al-Muzzani, Al-Muhadzdzab, At-Tanbih, Al-Wasith dan Al-Wajiz. Selain itu juga menjelaskan tentang bahasa Arab. Kitab ini mendapat pujian daro beberapa ulama.

2. Thabiqat Asy-Syafi’iyyah
Kitab ini menjelaskan tentang biografi ulama-ulama syafi’i.
3. Manaqib Asy-Syafi’i

Kitab ini menjelaskan mengenai kedudukan dan keutaman Imam Asy-Syafi’i rahimahullah serta hal-hal lain yang berkaitan dengannya.

 Dalam Bidang Akhlak
1. At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an
Kitab ini membahasa mengenai adab-adab bagi penghafal Al-Qur’an.
2. Bustanul Arifin
3. Al-Adzkar
4. Dan lain-lain

Disarikan dari beberapa rujukan :
1. Syarh Riyadhush shalihin oleh Syeikh Utsaimin
2. Bahjatunnadzirin oleh Syeikh Salim bin ‘Id al Hilali
3. Qawaid wa Fawaid oleh Nadhim Sulthan
4. http://catatanngajiku.wordpress.com

==========Sekian=========

 


[1]Allah berfirman :
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit(QS. Al Isra’ : 85)
Kalau ada yang bertanya :”Bagaimana menggabungkan ayat ini denga firman Allah –subhanahu wata’ala- :
ومن يؤتَ الحكمة فقد أوتي خيراً كثيراً
Barangsiapa yang diberikan hikmah, maka ia telah mendapatkan kebaikan yang banyak”. (QS. Al Baqarah : 269).
Maka jawabannya adalah bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia walaupun banyak namun jika dibandingkan dengan ilmu Allah maka akan menjadi sedikit (Kitab Zaad al Masir fi ilmi attafsi 4/190)
 
[2] Beliau meninggal dalam usia 45 tahun.
Kilau Sejarah Imam Nawawiy – رحمه الله –

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *