Bulan Muharram adalah bulan Allah ‘azza wa jalla yang memiliki keutamaan. Sehingga kaum muslimin bergembira dengan bulan ini dari sisi banyaknya kebaikan yang ada di dalamnya. Diantaranya adalah puasa sunnah Asyura pada tanggal 10 Muharram yang bisa menghapuskan dosa satu tahun dan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram. Namun sangat disayangkan masih banyak amalan-amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang tidak dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tentunya sangat merugilah mereka yang tidak mencontoh amalan Nabinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sungguh sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Seburuk-buruk perkara adalah perkara baru (dalam agama), dan setiap bid’ah adalah kesesatan” [HR. Muslim nomor 43]

Maka tidak ada jalan lain dalam beragama kecuali mengikuti apa yang telah diperintah dan dicontohkan Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam serta meninggalkan apa yang beliau tinggalkan.

Diantara amalan dan keyakinan sebagian kaum muslimin yang tidak pernah Nabi contohkan adalah:

DO’A AWAL TAHUN

Tidak ada do’a yang berasal dari Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam berkaitan dengan awal tahun atau akhir tahun.

Dr. Bakr Abu Zaid rahimahullah – Pengajar di Masjid Nabawi pada 1390 – 1400 H, dan anggota Majma’ al-Fiqhi al-Islami di bawah Rabithah Alam Islamiyah – (w. 1429 H) mengatakan,

لا يثبت في الشرع شيء من دعاء أو ذكر لآخر العام وقد أحدث الناس فيه من الدعاء ورتبوا ما لم يأذن به الشرع فهو بدعة لا أصل لها

“Tidak terdapat dalil dalam syariat yang menyebutkan tentang do’a atau dzikir akhir tahun. Masyarakat membuat-buat kegiatan do’a, mereka susun kalimat-kalimat do’a, yang tidak diizinkan dalam syariat. Do’a semacam ini murni tidak diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula ada dasarnya” (Tashih ad-Dua, hlm. 108).

PERINGATAN AWAL TAHUN HIJRIAH

Banyak dari kaum muslimin yang bersemangat ingin meramaikan pergantian tahun hijriyah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan dalam rangka menyambut dan memperingati masuknya tahun baru hijriyah. Namun sayang amalan tersebut tidak pernah dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tahun hijriyah sendiri sebenarnya belum ada dimasa Nabi. Tahun hijriyah baru ditetapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana keterangan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu ia mengatakan:

إنه يأتينا من أمير المؤمنين كتب فلا ندري على أيٍّ نعمل وقد قرأنا كتابًا محله شعبان فلا ندري أهو الذي نحن فيه أم الماضي

Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Kemudian Umar mengumpulkan para sahabat di Madinah, dan beliau meminta,

ضعوا للناس شيئاً يعرفونه

“Tetapkan bagi masyarakat suatu (tahun) sebagai acuan yang bisa mereka ketahui.”

Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain.

(Dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1/150)

Seorang muslim tentunya akan setia mengikuti apa yang diperintahkan Nabinya dan akan rela meninggalkan apa yang tidak dilakukan oleh Nabinya. Allah berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa saja yang datang dari Rasul, maka ambillah dan apa yang dia larang, maka berhentilah melakukannya” [QS. Al Hasyr: 7].

Dan juga berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya[QS. An Nisa: 65]

Seorang Muslim akan dengan lapang dada menerima apapun yang Nabi putuskan dalam perkara agama. Termasuk dalam masalah yang nabi tidak lakukan, maka dengan lapang dada ia akan meninggalkannya.

KEYAKINAN BAHWA MUHARRAM BULAN KERAMAT

Sebagian masyarakat masih ada yang meyakini bahwa ketika bulan Muharram tiba, maka seseorang dianjurkan untuk tidak menikahkan anak, atau mengadakan acara-acara karena bisa menimbulkan kesialan disebabkan keramatnya Muharram. Ini keyakinan yang tidak benar yang mirip dengan keyakinan orang-orang musyrik terdahulu. Kesialan dan bencana tidak ditentukan oleh bulan apapun. Namun semua kembali kepada Allah yang mengatur seluruh alam. Tidak ada satupun dalil dari al Qur’an dan hadits yang membenarkan keyakinan tersebut.

MEMBELI PERABOT DITANGGAL 10 MUHARRAM

Sebagian masyarakat meyakini keberkahan jika membeli prabot rumah tangga pada tanggal 10 Muharram. Ini adalah anggapan yang keliru yang tidak memiliki dasar dari agama. Tidak ada keutamaan di 10 Muharram kecuali amal shalih dan berpuasa di tanggal tersebut. Tidak ada hubungan keberkahan di tanggal itu dengan membeli prabot rumah tangga. Keyakinan seperti ini masih kita dapati di beberapa tempat di Indonesia. Sehingga di hari itu toko-toko perabot rumah tangga diserbu para pembeli, karena keyakinan tersebut. Maka seorang muslim hendaklah mengembalikan keyakinannya kepada petunjuk Islam dari al Qur’an dan Sunnah.

MENJADIKAN HARI ASY SYURA SEBAGAI HARI BERSEDIH 

Ini dilakukan oleh orang-orang Syiah. Mereka mengadakan acara-acara, arak-arakan, bahkan melukai badan-badan mereka dengan senjata tajam dalam rangka mengenang meninggalnya Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka menganggapnya sebagai syiar Islam. Tentu perbuatan ini perbuatan sesat dan meyesatkan. Allah berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik[QS. Al Baqarah: 195]

Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Adapun menjadikan hari asyura sebagai hari ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Syiah Rafidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia sedangkan dia mengira berbuat baik. Allah dan rasulNya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka?” [Lathaiful Ma’arif: 113]

Demikian sebagian kekeliruan yang banyak terjadi di sebagian kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa mencontoh apa yang di perintahkan dan dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar kita mendapatkan syafa’at dari beliau. Lalu amalan apa yang bisa kita lakukan di bulan Muharram ?

Nantikan pembahasannya pada artikel berikutnya.

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi Oktober Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

KEKELIRUAN DI BULAN MUHARRAM

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:    

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *