ikhlas

Beramal itu mudah, mungkin semua orang bisa beramal. Namun yang susah adalah beramal dengan dasar niat yang iklash. Ikhlash itu adalah memurnikan tujuan ibadah dalam rangka mentaati Dzat yang diibadahi, demikian ucapan Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- [I’lamul Muwaqi’in: 2/125].

Memurnikan niat ibadah hanya untuk Allah -Ta’ala- dan tidak meniatkannya untuk selain Allah -Ta’ala- bukan perkara yang mudah. Karena kita harus berhadapan dengan syaithan yang tak kenal lelah dalam merusak niat-niat kita. Berhadapan dengan hawa nafsu yang cenderung menggandrungi dunia dan perhiasannya. Hingga Sufyan ats Tsauri –rahimahullah- seorang ahli hadits tersohor yang meninggal pada tahun 191 hijriyah berkata: “Tidak ada sesuatu yang paling susah aku sembuhkan kecuali niatku, karena niat itu berbolak balik dalam diriku” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 1/70]

Perhatikan wahai kaum muslimin, bagaimana seorang Imam ahli hadits yang ilmunya bak lautan dan bukan sekedar berilmu namun juga ulama yang mengamalkan ilmunya. Panutan bagi ummat Muhammad yaitu Sufyan ats Tsauri –rahimahullah- harus merasa risau dan melihat niat yang ikhlash sebagai sesuatu yang amat berat baginya.

Di dalam al Qur’an Allah -Ta’ala-  berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan di akhirat lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?(QS. Hud: 15-16).

 

Para pembaca sekalian, coba cermati baik-baik ayat diatas, renungkan dan pahami bagaimana nasib mereka yang beramal bukan karena Allah -Ta’ala-, namun beramal karena menginginkan dunia. Tidak ada yang akan ia peroleh di akhirat kelak kecuali neraka yang menyala-nyala. Namun karena keadilan Allah -Ta’ala-, maka Dia memberikan balasan kepada orang tersebut di dunia terhadap amalan yang telah mereka lakukan. Itu hanya balasan di dunia dan bukan di akhirat. Alangkah merugi dan celakanya ia, karena beramal namun ia tidak menikmati hasilnya di akhirat. Tidaklah itu terjadi melainkan karena ia tidak mengikhlashkan dan memurnikan niatnya karena Allah -Ta’ala- nas’alullahassalamah wal afiyah-.

 

Shahabat nabi Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata: “sesungguhnya orang yang riya (tidak ikhlash) akan diberi balasan terhadap kebaikannya di dunia dan mereka tidak akan didhalimi oleh Allah -Ta’ala- sama sekali. Beliau juga mengatakan: “Barangsiapa yang beramal shalih dalam rangka mencari dunia apakah dalam hal puasa ataupun shalat, dimana ia tidak melakukannya kecuali untuk mendapatkan dunia, maka Allah -Ta’ala- akan memberikan balasan apa yang ia niatkan di dunia namun amalan yang ia lakukan terhapus (pahalanya) dan di akhirat ia akan termasuk orang yang merugi [Mukhtashar tafsir Ibni Katsir karya Muhammad Ali ash Shabuni: 2/214].

Demikianlah ungkapan Abdullah bin Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- yang menunjukkan pentingnya niat yang ikhlas dalam setiap amalan. Yaitu beramal shalih dengan tidak mengharap balasan kecuali balasan dari Allah -Ta’ala-. Hendaklah setiap muslim ketika hendak beramal, atau ketika beramal dan setelah selesai beramal, maka janganlah ia menyebut-nyebut amalannya kecuali sekedar untuk menceritakan nikmat yang Allah -Ta’ala- berikan kepadanya  atau diceritakan sebagai contoh kebaikan untuk orang lain. Dengan itu semoga amalan kita bisa bernilai ibadah dan diterima disisi Allah -Ta’ala- serta diterima di kalangan manusia. Sehingga kita menjadi orang yang paling kuat karena tempat berharap kita adalah Allah -Ta’ala- yang Maha kuat lagi perkasa. Dengan demikian kita akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat –insya Allah -.

Para pembaca sekalian –semoga Allah -Ta’ala- merahmati aku dan juga anda-, sebagai akhir risalah ini, kami sampaikan sebuah kisah penuh hikmah yang dituturkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- dimana Nabi bersabda:

Sungguh manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat yang ia peroleh sehingga ia mengakuinya, lantas Allah -Ta’ala-  bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena Aku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Lalu didatangkan pula seseorang yang belajar Ilmu dan mengajarkannya, serta membaca al Qur’an, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat yang ia peroleh sehingga ia mengakuinya, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an karena Engkau.‘ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu supaya di katakan alim, serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat yang ia peroleh sehingga ia mengakuinya ‘ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya? ‘ dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkan harta sedikit pun melainkan saya infakkan harta tersebut karena Engkau. Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka[HR. Muslim nomor 1905]

Hadits yang luar biasa ini memberi gambaran betapa sulitnya keikhlasan dan betapa sedikitnya orang yang dianugrahi keikhlasan dalam setiap amal yang ia lakukan. Sehingga wajib bagi setiap muslim untuk senantiasa memperbaiki niatnya dan bersemangat dalam melakukannya. Karena amalan yang secara lahiriyah bagus, belum tentu diterima oleh Allah -Ta’ala- jika tidak dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah -Ta’ala- dan tidak mengharap dari selainNya. Semoga Allah -Ta’ala- menjaga kita dari ketidak ikhlasan dalam beramal. [selesai]

Sumber: Buletin Madrosah Sunnah edisi 01 Shafar 1437 H

Keikhlasan

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:            

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

2 komentar pada “Keikhlasan

  • Maret 28, 2016 pada 2:18 am
    Permalink

    Assalamu alaikum warahmatullah ..Ust sy ini awam dalam ilmu islam terima kasih atas tulisan2nya saya sangat terbantu belajar lewat web ini..mohon ijin apakah boleh saya share tulisan2 di web ini ?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *