”Apa yang anda pikirkan bila disebut kata teroris?” Beberapa belas tahun yang lalu, bila disebut kata teroris, maka yang tergambar adalah para penjahat berwajah dingin dengan memakai jas mantel hitam panjang, membawa senjata dan memakai penutup wajah. Namun saat ini, bila disebut kata ”teroris”, maka yang tergambar adalah seorang pria yang berjanggut, memakai surban, jubah putih, dan celana yang panjangnya hanya sampai betis, serta istrinya memakai cadar…!!!  ”Subhanallah”. Benarkah surban, jubah, janggut, celana sebetis, dan cadar adalah ciri teroris….? Berikut penjelasannya.

Akibat ulah para teroris yang mengatas namakan aksi-aksi terorisme dengan nama jihad, maka syari’at Islam yang mulia menjadi buruk di mata manusia, kajian-kajian agama yang membahas Al-Qur’an dan hadits juga dicurigai sebagai kajian teroris. Hal ini diperparah dengan tampilnya mereka dengan penampilan yang Islami, ketika mereka telah ditangkap dan dipenjara. Mereka memakai jubah dan memanjangkan janggut. Padahal sebelum ditangkap, mereka memotong janggut mereka dan berpenampilan seperti masyarakat umum. Bahkan tidak jarang ada di antara mereka yang melanggar syari’at, dengan menyamar memakai pakaian jilbab wanita dan bercadar, padahal laki-laki diharamkan memakai pakaian wanita. Sahabat Nabi Ibnu Abbas berkata: ”Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita…” (HR. Bukhari)

Sungguh para teroris yang membawa-bawa nama Islam itu telah merusak citra agama yang mulia ini. Sehingga semua orang yang berpenampilan sama akan dicurigai teroris. Padahal janggut, celana pendek sebetis, surban dan jubah adalah penampilan Islami yang  telah dicontohkan oleh suri tauladan yang terbaik yaitu Rasulullah. Berikut pembahasannya:

a. Tentang Memanjangkan Janggut.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

 “Cukurlah kumis kalian dan biarkan janggut kalian tumbuh.” [Hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari & Imam Muslim].

 

Dalam hadits ini ada perintah dari Nabi agar umatnya yang pria mencukur kumis dan membiarkan janggut mereka tumbuh dan tidak dipotong. Bahkan perlu diketahui bahwa salah satu ciri-ciri Rasulullah yang diceritakan oleh para sahabat Nabi di dalam banyak hadits adalah beliau memiliki janggut yang lebat, sebagaimana diberitakan oleh sahabat Nabi yang bernama Jabir bin Abdillah yang berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah r janggutnya lebat” (HR. Imam Muslim)

Dari hadis ini kita akan paham, bahwa berjanggut adalah salah satu ciri Rasulullah, manusia pilihan yang paling sempurna. Maka betapa celakanya bila ada seorang Muslim yang menganggap bahwa janggut itu mengotori penampilan.

b. Celana panjang sampai betis.

Dalam hal ini terdapat perintah Rasulullah, sebagaimana diceritakan oleh shahabat Nabi Hudzaifah bin Yaman bahwa  Rasulullah  r  memegang   tulang   betisnya seraya bersabda kepada Hudzaifah t:

“Inilah (batasnya) panjang pakaian, jika engkau tidak mau maka bisa dipanjangkan  lebih ke bawah lagi, jika engkau tidak mau, maka tidak boleh memanjangkan kain (celana, jubah, sarung) sampai  menutupi mata kaki” (HR. Tirmidzi no. 1784)

 Dalam hadits ini ada perintah bagi pria Muslim untuk mengenakan pakaian yang panjangnya tidak boleh menutupi mata kaki. Dan demikianlah juga cara berpakaian Rasulullah, sebagaimana di ceritakan oleh Sahabat Nabi ‘Ubaid Ibn Khalid al-Muharibi t yang berkata: “Aku melihat (ujung) kain pakaian Rasulullah r yang hanya sampai ke pertengahan ke dua betisnya” (HR. Ahmad).

c. Tentang memakai jubah putih dan surban.

Salah satu istri Rasulullah yang bernama Ummu Salamah mengatakan bahwa:

“Pakaian yang paling disukai Rasulullah r adalah Qamish (jubah)”. (HR. Abu Daud no. 4025)

“Qamish” adalah jubah yang panjangnya sampai sebetis. Dan inilah pakaian kesukaan Rasulullah. Adapun pakaian putih, Rasulullah bersabda:

”Pakailah pakaian yang berwarna putih, karena pakaian putih adalah lebih bersih dan lebih baik.” (HR. At-Tirmidzi no. 2811).

 Tentang memakai surban.

Sahabat Nabi ‘Amru Ibn Harits berkata: Aku melihat Nabi r di atas mimbar sedang berkhutbah, Rasulullah memakai sorban berwarna hitam yang kedua ujungnya tergerai di antara kedua belikat Rasulullah” (HR. Muslim kitab Al-Hajj).

Tentang Memakai Jilbab Besar dan Cadar.

Untuk pakaian wanita Muslimah, Allah berfirman:

”Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanitanya orang beriman: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Dalam ayat ini ada perintah dari Allah agar para wanita beriman menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, bukan hanya menutupi leher saja. Dalam Al-Qur’an Terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia disebutkan:

”Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.”  (Lihat penjelasan ini dalam Al-Qur’an terjemahan Depag pada catatan kaki Surat Al-Ahzab ayat 59).

Perhatikanlah, dalam menjelaskan jilbab disebutkan “menutup kepala dan muka”, tentu saja yang dimaksud “menutup muka” dalam hal ini adalah memakai cadar. Ini menunjukkan bahwa para ’ulama Indonesia yang menterjemahkan Al-Qur’an (pada tahun 1971 dan belum berubah sampai sekarang) mereka mengetahui bahwa menutup muka (memakai cadar) merupakan salah satu ajaran syari’at Islam yang mulia, karena cadar termasuk dalam pengertian jilbab.

Dalam hadits riwayat ‘Aisyah istri Nabi, ia berkata:

“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, ketika kami (para wanita) sedang berhaji bersama-sama Rasulullah r. Maka ketika mereka (para pengendara laki-laki tersebut) telah dekat, masing-masing kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Dalam penjelasan di atas, kita telah memahami bahwa berjanggut, berjubah, celana tergantung, surban, jilbab besar dan cadar adalah termasuk aturan syari’at Islam yang mulia.

 PENUTUP

Siapa yang cinta dan mengidolakan seseorang, akan berusaha untuk meniru tokoh idolanya dengan semirip-miripnya. Begitu juga seorang Muslim yang mencintai Nabi nya, pasti ia bahagia dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Rasulullah, sehingga ia akan berusaha semampunya untuk mengikuti ajaran Rasulullah.

Menjadikan Nabi r sebagai suri tauladan, bukan hanya sebatas melaksanakan sholat sebagaimana Nabi sholat atau berdzikir sebagaimana Nabi berdzikir. Akan tetapi, ajaran Sunnah Nabi itu banyak, dan meliputi berbagai hal. Rasulullah adalah suri tauladan yang paling baik dalam segala hal. Baik itu dalam ibadah, akhlaq, dan termasuk dalam penampilan beliau. Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”     (QS. Al-Ahzab: 33).

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman

”Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”

(QS. Al-Hajj : 32)

Berjanggut, celana yang panjangnya sampai betis, jubah putih, surban, jilbab besar dan cadar adalah termasuk Sunnah (ajaran) Nabi r dan syi’ar Islam yang harus dihormati, diagungkan dan dijunjung tinggi. Bukan dihina, diejek, difitnah, atau dicap dengan cap teroris. Serta digelar dengan gelar-gelar yang jelek. Hikmah dari pakaian dan penampilan yang sesuai Sunnah (ajaran) Nabi, adalah agar kaum Muslimin tampil beda, memiliki karakter, dan ciri khas yang akan membedakan antara seorang Muslim dari non-Muslim. Dan hal ini merupakan salah satu tujuan diutusnya Rasulullah, yaitu agar agama ini nampak di atas agama yang lainnya. Allah berfirman:

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia menampakkan agama itu di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci”         (QS. Ash-Shaaff: 9)

Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:

“Inti kebaikan adalah mengikuti Nabi dalam perkataan dan perbuatannya.” (dikutip dari kitab Fathur-Rabbani, hal.207)

Imam Al-Ghozali berkata: ”Ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan adalah mengikuti Sunnah dan meniru Rasulullah dalam segala hal…” (dikutip dari kitab Ihya ’Ulumuddin Bab 20)

Kaum Muslimin harusnya menampakkan jati diri Muslimnya dan tidak usah minder dengan penampilan dan ciri khas Islam, walaupun penampilan itu tampak asing dan aneh bagi sebagian orang, sebab Nabi r telah mengabarkan bahwa suatu hari nanti Islam akan menjadi asing di kalangan manusia, Nabi bersabda:

“Awal munculnya Islam dalam keadaan ”gharîb (asing), dan kelak akan kembali menjadi asing seperti awal munculnya…” [HR. Muslim no. 145]

Saat ini Sunnah Rasulullah sudah dirusak oleh segelintir oknum kaum Muslimin yang terpengaruh dengan propaganda orang-orang kafir musuh Islam. Mereka mengejek penampilan yang sesuai Sunnah, dan sudah seharusnya kita sebagai ummat Nabi meluruskan anggapan buruk terhadap sunnah Nabi kita, dan semoga kita digolongkan oleh Allah sebagai orang yang berbahagia dan beruntung di akhirat, Nabi bersabda:

”…maka beruntunglah bagi al-Ghurabaâ (orang-orang yang tampak asing).” [HR. Muslim no. 145]

”Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah r) sesudah dirusak oleh manusia.” [HR. At-Tirmidzi no. 2630].

Menjuluki orang yang berpenampilan Sunnah sebagai teroris, sama saja dengan menghina ajaran dan Sunnah Rasulullah r. Walaupun para teroris itu menampakkan penampilan Islami, tapi antara pelaku terorisme dengan Ahlus Sunnah (orang-orang yang komitmen dengan Sunnah) bagaikan ungkapan ”Serupa tapi tak sama”. Sekilas tampak sama, tapi hakikatnya jauh berbeda. Seorang Muslim yang mengaku cinta Rasulullah tidak usah latah dan ikut-ikutan dengan orang-orang jahil (bodoh) yang tidak mengerti tentang agama, yang menjelek-jelekkan penampilan yang sesuai dengan syari’at Islam, sementara mereka memuji-muji penampilan gaya orang barat yang kafir. Nabi r telah menyebutkan sebuah ancaman keras untuk mereka yang ”alergi” dengan Sunnah nya, Nabi r bersabda:

“Barangsiapa yang benci pada Sunnahku, maka dia bukan dari golonganku” (HR. Bukhari)

Mari kita tanyakan kepada mereka yang suka mengejek Sunnah Nabi,  apa yang akan anda katakan jika nanti di akhirat Rasulullah tidak mengakui anda sebagai golongan beliau?

Ini Bukan Penampilan TERORIS

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *