butaJika kita merenungi penciptaan kedua mata kita, maka kita akan mendapatkan suatu hal yang luar biasa dan menakjubkan. Bentuknya yang indah nan menawan serta lekuk dan ukurannya yang serasi, menambah ketinggian nilai anugerah Allah Yang Maha pencipta. Kemudian Allah –Subhana wa Ta’ala- menghiasinya dengan pelupuk mata sebagai tutupnya, tirai dan pelindungnya serta sebagai hiasan baginya. Kedua pelupuk mata itu melindungi bola mata dari gangguan, kotoran dan debu. Serta dari udara dingin dan udara panas yang menyengat.

Allah –Ta’ala– melengkapi manusia dengan mata sebagai alat penglihatan yang ia Laksana pelita, pengawas dan penerang bagi tubuh. Dengan mata ini, manusia dapat melihat dari timur sampai ke barat, dapat memandang bumi yang indah terhampar dan langit yang begitu luas.

Kemudian coba perhatikanlah keadaan orang yang tidak memiliki penglihatan. Kesulitan dan kesusahan akan ia temui dalam mengurus urusannya. Ia tidak dapat mengetahui tempat kakinya menapak dan tidak mengetahui apa yang ada di depannya. Ia tidak dapat membedakan warna dan tidak dapat membedakan pemandangan yang indah atau yang jelek. Ia tidak dapat mengambil faedah ilmu dari kitab  yang dibacanya.

Ia tidak bisa mengetahui lubang yang ia dapat terperosok ke dalamnya, ia tidak mengetahui binatang buas yang mengancamnya dan tidak dapat melindungi diri darinya. Tidak dapat mengetahui musuh yang menyerangnya dan tidak dapat melarikan diri jika ada orang yang mengejarnya untuk menyakitinya.

Demikianlah perbedaan antara orang yang mampu melihat dan orang yang buta. Hal ini sama keadaannya dengan orang yang berilmu dengan orang yang jahil atau tidak punya ilmu. Orang yang berilmu akan mengetahui antara yang haq dan yang batil dengan tuntunan dan petunjuk ilmunya. Ilmu akan menerangi jalan hidupnya hingga ia bisa selamat di dunia dan di Akhirat.

Akan tetapi berbeda dengan orang yang jahil. Ia akan menjadi liar dan tidak mengenal aturan, yang mengikuti siapa saja yang berteriak, terhempas kemana arah angin yang bertiup, tidak diterangi oleh cahaya ilmu serta tidak bersandar kepada tiang yang kokoh.

Oleh karenanya, Allah –Azza Wa Jalla–  menegaskan di dalam Al-Qur’an tentang perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang jahil. Allah –Subhana wa Ta’ala– berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar: 9)

Orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak berilmu, sebagaimana tidak samanya orang yang hidup dengan orang yang mati, orang yang mampu mendengar dengan orang yang tuli dan orang yang melihat dengan orang yang buta. Karena ilmu merupakan cahaya kehidupan yang diturunkan Allah –Ta’ala– kepada manusia. Allah –Azza Wa Jalla– berfirman,

قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 15-16 )

Oleh karenanya, jika seseorang lebih condong mengikuti hawa nafsunya dan tidak mau belajar menuntut ilmu syar’i, maka ia akan berada dalam kegelapan yang menyesatkannya dari jalan yang lurus. Ia tidak mampu membedakan antara Tauhid dan Syirik, Sunnah dan Bid’ah serta ketaatan dan maksiat. Keadaannya seperti sang pencari kayu bakar di malam hari. Ia hanya bisa meraba dan menduga-duga, apakah ini kayu ataukah ular.

Maka ilmu akan mengeluarkan seseorang dari kegelapan menuju alam yang terang benderang. Dengan ilmu, Allah –Ta’ala– akan meninggikan derajat hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ  

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11)

Maka kita mendapati bahwa para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan. Setiap kali mereka disebut, manusia pun memuji dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Ini adalah ketinggian yang mereka peroleh di dunia. Sedangkan di akhirat kelak, mereka akan ditinggikan derajatnya sesuai dengan amalan yang telah dikerjakan dan diamalkan dahulu di dunia.

Oleh karena itu, Allah –Azza Wa Jalla– memerintahkan kepada Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- untuk meminta tambahan ilmu. Allah –Subhana wa Ta’ala– berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thohaa: 114)

Ilmu yang dimaksud disini ialah ilmu Syariat berupa keterangan dan petunjuk-petunjuk Allah –Subhana wa Ta’ala– bukan ilmu-ilmu yang lain seperti perindustrian, perekonomian, pertanian dan lain-lain. Karena telah dimaklumi bahwa para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan ilmu tentang syariat Allah. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِر

Sesungguhnya para Ulama adalah pewaris para Nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah memperoleh bagian yang berlimpah.” [HR. Abu Dawud (3641)]

Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– tatkala datang ke kota Madinah, Ia menjumpai manusia melakukan proses penyerbukan pada pohon-pohon kurma. Beliau berkata dengan suatu ucapan ketika melihat betapa payahnya mereka, yaitu tentang tidak perlunya penyerbukan terhadap pohon-pohon tersebut, maka merekapun mengikuti saran Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu. Mereka meninggalkan proses penyerbukan yang sebelumnya mereka kerjakan. Akibatnya pohon-pohon itu rusak. Kemudian Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِشُؤُوْنِ دُنْيَاكُمْ

Kalian lebih tau tentang urusan dunia kalian”  [HR. Muslim]

Andaikata ilmu tersebut adalah ilmu yang terpuji maka tentunya Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– adalah orang yang paling tau tentang ilmu tersebut. Namun bukan berarti ilmu-ilmu yang lain tidak penting dan tidak memiliki manfaat. Akan tetapi pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut memiliki dua sisi. Apabila ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk menopang ketaatan kepada Allah -Ta’ala- dan menolong agama-Nya serta manusia dapat mengambil manfaat darinya, maka ilmu-ilmu tersebut merupakan suatu kebaikan dan kemashlahatan. Akan tetapi jika ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk kejelekan atau perantara pada kejelekan, maka ilmu-ilmu tersebut menjadi tercela.

Oleh karenanya, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Karena tidak ada jalan baginya untuk memahami agamanya dan membebaskan dirinya dari belenggu kejahilan melainkan dengan mempelajari agamanya yang murni dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan tuntunan para sahabat -Rhadiyallahu anhum-. Sebab barangsiapa yang diberi pemahaman tentang agamanya, maka ia mendapatkan kebaikan yang besar. Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscaya akan difahamkan kepadanya tentang urusan agamanya.” [HR. Al-Bukhari(71) dan Muslim(100)]

Sumber: Buletin Dakwah Madrosah Sunnah Edisi 02 Shafar 1437 H

 

 

 

Ilmu Agama dan Orang Buta

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:                                                    

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *