Pada edisi sebelumnya, kita telah membahas beberapa hal yang berkaitan dengan hukum seputar qurban. Maka di edisi kali ini, kita akan menyimak beberapa hukum yang terkait seputar hukum qurban.

Umur Hewan Qurban Yang Disyari’atkan?

Hewan qurban yang disyariatkan untuk disembelih adalah hewan yang sudah cukup umur. Jika belum cukup umur, maka sesembelihannya tidak sah dan dianggap seperti sesembelihan biasa. Disebutkan dalam hadits,

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian menyembelih qurban, kecuali hewan yang telah berumur Musinnah, dan jika kalian kesulitan mendapat Musinnah, maka diperbolehkan domba yang masih Jadz’ah” [HR. Muslim (1963), Abu Dawud (2797), An Nasa’i (7/218), Ibnu Majad (3141)

Umur Musinnah pada Onta adalah yang sudah genap berumur 5 Tahun, sedang sapi adalah yang telah genap 2 tahun, dan kambing telah genap 1 tahun. Adapun domba diperbolehkan yang berumur jadz’ah. Ada yang mengatakan bahwa jadz’ah pada domba adalah ketika berumur 6 bulan [Lihat: Kitab al Fiqhul Muyassar: 193].

Hukum Hewan Cacat

Tidak semua hewan yang cukup umur boleh dijadikan hewan qurban, karena masih ada syarat yang harus terpenuhi. Yaitu hewan tersebut tidak boleh ada cacat yang dicela dalam syari’at.

Kenapa demikian?

Karena hakikat dari hewan qurban adalah memberikan persembahan sesembelihan untuk Allah ‘azza wa jalla, sehingga hewan yang kita berikan adalah hewan yang  baik atau tidak cacat. Para ulama kita membagi cacat menjadi 3 jenis. Yaitu cacat yang tertolak sehinngga menjadikan hewan tersebut tak bisa dijadikan hewan qurban, cacat yang sifatnya makruh, dan cacat yang ditolelir.

Cacat dari binatang kurban yang tertolak ada 4 yaitu Buta sebelah yang jelas sekali kebutaannya, sakit yang sangat jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang karena lemahnya.

Keterangan ini bisa kita dapatkan pada hadits Al Barra radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَرْبَعٌ لَا يَجُزْنَ الْعَوْرَاءُ: الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا، وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي

“Empat cacat yang tidak boleh dijadikan hewan kurban adalah Buta sebelah yang jelas sekali kebutaannya, sakit yang sangat jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya, dan kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang karena lemahnya” [HR. An Nasa’i(4369), Ibnu Majah (3144), Ahmad (4/284)]

Adapun cacat yang dimakrukan diantaranya terpotong seluruh telingannya atau sebagiannya dan tanduk yang pecah atau patah.

Sedangkan cacat yang masih dimaklumi walau sebagian ulama memakruhkan atau bahkan ada yang tidak membolehkannya seperti ompong atau hilang gigi bagian depan, ekornya terputus, pantatnya terpotong, terpotong hidungnya, kering air susunya, dan lain-lain. Ini tetap sah dijadikan hewan qurban. Akan tetapi sebagai seorang muslim kita berusaha berqurban dengan hewan terbaik sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَشْرِفَ الْعَيْنَ وَالْأُذُنَ

“Kami diperintah oleh Rasulullah untuk memperhatikan mata dan telinganya” [Diriwayatkan oleh an Nasa’i (4372), Ahmad (1/95), Tirmidzi (1498), Abu Dawud (284), Ibnu Majah (3142)]

Kapan Waktu Pemotongan ?

Penyembelihan hewan qurban dilakukan setelah shalat ‘ied sampai selesainya hari Tasyrik. Hari tasyrik adalah 3 hari setelah ‘iedul Adha yaitu tangggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Bagi yang menyembelih sebelum shalat ied, maka ia harus mengulang sesembelihannya. Dan sembelihan yang sudah ia sembelih dianggap sebagai daging biasa. Ini ditunjukkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ، فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

“Siapa yang menyembelih sebelum shalat ‘Ied, maka hendaklah ia menyembelih sesembelihan yang lain, dan bagi yang belum menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan membaca “Bismillah” [HR. Bukhari (5562) dan Muslim (1960)

Penyembelihan juga bisa dilakukan pada hari-hari tasyrik sebelum tenggelamnya matahari di tanggal 13 Dzulhijjah. Dalam hadits dari Jubair bin Muth’im dari Nabi ‘alaihish shalatu wassalam disebutkan,

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Setiap hari-hari tasyrik adalah waktu penyembelihan” [HR. Ahmad (4/82), Baihaqi (9/295), Ibnu Hibban (1008), Daruquthni (4/284)]

Memberi Upah Tukang Jagal

Sebagian orang yang belum mengetahui hukum ini terkadang bermudah-mudah memberikan daging qurban kepada tukang jagal (orang yang menyembelih qurban) yang dijadikan sebagai upah baginya. Padahal memberi upah kepada tukang jagal dari hasil qurban adalah perkara yang terlarang. Lalu darimana tukang jagal mendapat upah ?

Upah tukang jagal diberikan dari uang lain diluar daging qurban. Atau boleh diberi daging qurban bukan sebagai imbal jasa pekerjaannya, namun sebagai pembagian dia sebagai anggota masyarakat. Diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi onta-onta qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan Ajillah (kulit yang ada pada punggung onta). Aku tidak memberi tukang jagal sesuatu dari hasil sembelihan qurban. Nabi bersabda, “Kami memberi upah kepadanya dari uang kami sendiri”.(HR. Muslim no. 1317)

Semoga sedikit penjelasan ini bisa menjadikan ibadah qurban kita lebih berkah dan diterima oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi September Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

HUKUM SEPUTAR QURBAN (Bag 02)

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *