Di hari-hari ini kaum muslimin sibuk mempersiapkan diri untuk satu perayaan agung yaitu Ibadah haji dan penyembelihan hewan qurban di bulan Dzulhijjah. Bagi kaum muslimin yang telah memiliki  kemampuan, maka mereka disyariatkan melaksanakan kedua ibadah yang besar ini. Ibadah haji adalah salah satu dari rukun Islam yang lima dan diwajibkan bagi mereka yang telah memiliki kemapuan. Sedangkan penyembelihan hewan kurban adalah perkara yang sangat ditekankan dalam syariat Islam. Insya Allah pada kajian buletin Madrosah Sunnah kali ini kita akan membahas serba-serbi ibadah kurban.

Apa Itu Qurban ?

Qurban diistilahkan dalam pembahasan fikih dengan Udhiyah (الأضحية) diambil dari bahasa Arab dari kata Dhuha dan Adha dimana waktu dhuha di hari ‘Idul Adha setelah shalat adalah waktu pertama kali dilakukan penyembelihan.

Berkata Abdurrahman bin Muhammad al Baghdadi al Maliki rahimahullah, “Udhiyah adalah binatang ternak yang disembelih pada hari ‘Idul Adha untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Disebut Udhiyah karena itu dilakukan pada hari ‘Idul Adha dan di waktu dhuha” [Asyraful Masalik: 1/121]

Pensyariatan Ibadah Kurban

Disebutkan dalam al Qur’an,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka shalatlah karena Rabb mu dan menyembelihlah” [QS. Al Kautsar: 2]

Berkata ‘Ikrimah, ‘Atha, dan Qatadah rahimahullah: “Maksud ayat ini adalah shalat ‘ied lah di hari Idul Adha karena Allah dan sembelihlah sesembelihanmu[Tafsir al Baghawiy: 8/559]

Sedangkan dalam hadits Rasulullah juga disebutkan keterangan bahwa Udhiyah (Qurban) adalah amalan yang telah ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Diantaranya adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dua domba berwana putih kehitaman dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca “Bismillah” dan bertakbir serta meletakkan kaki di atas  rusuknya” [HR. Bukhari (5558) dan Muslim (1966).

Lalu Hukumnya ?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menyembelih hewan qurban bagi orang yang mampu. Kebanyakan ulama (jumhur ulama) seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad berpendapat bahwa hukumnya sunnah muakkadah, artinya bagi orang yang mampu namun tidak berqurban, maka ia tidak berdosa. Tapi ia rugi karena tidak mendapat keutamaan yang besar dari ibadah yang agung ini. Mereka menyebutkan riwayat beberapa sahabat Nabi yang mengatakan tidak wajibnya. Salah satunya adalah dari Abu Mas’ud al Anshariy radhiyallahu ‘anhu yang barkata: “Aku tidak melaksanakan ibadah qurban, padahal aku punya kelonggaran, karena aku khawatir tetanggaku menyangka bahwa ibadah ini wajib bagiku” [Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq(8149) dan al Baihaqi(9/265 dengan sanad yang shahih).

Ini berbeda dengan dengan pendapat Imam Abu Hanifah yang mengatakan hukumnya wajib bagi orang yang mampu [Shahih Fiqhus Sunnah: 2/367].

Pendapat pertama itu yang kami kuatkan. Wallahu a’lam.

Hewan Apa Yang Dijadikan Qurban ?

Tidak semua hewan ternak bisa dijadikan hewan qurban. Di masyarakat kita kadang kita dapati sebagian orang yang tidak mampu berqurban, maka mereka memotong ayam dan mengatakan: “Ini hewan kurbanku”.

Apakah ayam juga termasuk hewan qurban ?

Tentu bukan, karena hewan qurban adalah hewan yang telah ditentukan dalam syari’at Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka…” [QS. Al Hajj: 34]

Binatang ternak yang dimaksudkan disini adalah onta, sapi, domba atau kambing. Dalam kitab al Fiqhul Muyassar Fi Dhai’il Kitab Was Sunnah [hal 192-193] disebutkan: “Binatang ternak yang dimaksud tidak keluar dari tiga jenis ternak tersebut, karena tidak ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka pernah menyembelih hewan qurban selain tiga jenis hewan itu.

Kalau Kerbau ?

Kerbau dan sapi memang berbeda nama dari sisi bahasa Arab. Sehingga ada pertanyaan yang muncul, apakah kerbau juga termasuk hewan qurban ? Para ulama kita menyamakan kerbau sebagai jenis dari sapi [Kitab al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah: 5/81]

Syeikh Muhammad Utsaimin rahimahullah ditanya tentang berqurban dengan kerbau, lalu beliau menjawab: “Jika kerbau itu termasuk jenis sapi, maka kerbau sebagaimana sapi (bisa dijadikan hewan qurban –pent-), namun jika bukan dari jenis sapi sungguh Allah (dalam al Quran) telah menyebutkan jenis hewan yang dikenal oleh orang Arab, dan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang Arab” [Liqaul babil Maftuh: 202(28) dengan penomoran dari Maktabah Syamilah).

Jadi jika kerbau kita golongkan sebagai jenis dari sapi, maka boleh kita menjadikan kerbau sebagai hewan qurban. Tapi jika kita melihat bahwa kerbau bukan dari jenis sapi, maka yang lebih selamatnya kita berqurban dengan sapi.

Apa Yang harus Dilakukan Oleh Orang Yang Hendak Berkurban ?

Bagi orang yang hendak berqurban, maka hendaklah ia memperhatikan perkara-perkara sunnah yang diajarkan Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam agar ia memperoleh berkah dan kebaikan di dalam ibadah ini. Diantaranya ketika memasuki tanggal 1 Dzulhijjah, maka ia tidak boleh memotong rambut, kuku dan mengelupas kulit.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau bersabda,

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Apabila telah masuk sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) dan seseorang di antara kalian hendak berqurban, maka janganlah mencukur rambut dan kulitnya sedikitpun[Riwayat Muslim]

Tidak mencukur rambut dan memotong kuku dilakukan hingga ia telah selesai memotong sesembelihannya. Rambut disini mencakup seluruh rambut yang ada di badan, seperti rambut ketiak, kumis, dan lain-lain. Ada yang yang mengatakan bahwa ini dilakukan dalam rangka mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang berihram di tanah suci.

Hukum ini berlaku pada orang yang hendak berqurban saja dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Anggota keluarga lain tetap diperbolehkan untuk memotong kuku dan rambutnya sebelum penyembelihan. Lalu apa hukum larangan ini ?

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum larangan ini, ada yang mengatakan haram seperti Imam Ahmad dan sebagian Syafi’iyah dan ada yang berpendapat makruh seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Perkara kedua yang disunnahkan kepada orang yang berqurban adalah memakan daging qurban setelah disembelih. Disunnahkan pertama yang ia makan di hari ‘ied adalah daging sesembelihannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman’

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“…makanlah dari sebagiannya dan sebagian lagi berikan kepada orang yang sengsara dan fakir[QS. Al Hajj: 28]

Demikian sekilas hukum seputar qurban pada edisi pertama dan nantikan kelanjutannya pada edisi berikutnya.

 

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi September Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

HUKUM SEPUTAR QURBAN (Bag 01)

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *