Kita sering mendengar kata ghibah namun banyak dari kita yang masih tidak mengetahui tentang apa itu ghibah. Bahkan orang yang mengetaui pun terkadang jatuh ke dalamnya tanpa mereka sadari. walaupun ia adalah perkara yang ringan di lisan manusia, namun besar timbangan dosanya di sisi Allah -Azza Wa Jalla-. Sebab Allah -Ta’ala- menyamakan orang yang mengghibahi orang lain seperti orang yang makan bangkai saudaranya sendiri. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah sebahagian kamu mengghibahi sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12).

 

DEFINISI GHIBAH

Ghibah secara bahasa berasal dari kata Al-Igtiyaab (الإِغْتِيَابُ) artinya membicarakan kejelekan seseorang dibelakangnya yang harusnya ditutupi atau sesuatu yang akan membuatnya sedih jika ada pada dirinya. [Lihat Taajul ‘Uruus min Jawaahiril Qomus (501/3)

Adapun secara istilah disebutkan oleh Al MunawiyRahimahullah“Ghibah adalah menyebutkan aib seseorang tanpa sepengatahuannya baik secara Lafazh, isyarat maupun penggambaran.”[lihat Faidhul Qodiir (3/166)]

Hal tersebut akan semakin jelas jika kita menyimak pemaparan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang makna Ghibah dalam hadits Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu-. Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah lalu berkata, “Memperbincangkan tentang saudaramu dengan apa yang ia benci.” Kemudian ada yang berkata, “Bagaimana menurutmu apabila perkataanku tentang saudaraku itu benar?” Rasulullah menjawab, “Apabila perkataanmu tentang saudaramu benar, maka berarti engkau telah mengghibahinya (menggunjingnya), dan jika perkataanmu tidak sesuai dengan yang sebenarnya, maka engkau telah melakukan kebohongan terhadapnya.” (HR. Muslim)

Jadi, Ghibah berarti menggunjing atau membicarakan aib orang lain ketika ia tidak ada, yang mana hal itu akan menimbulkan rasa tidak suka jika orang tersebut mengetahuinya.

 

SEBAB TERJADINYA GHIBAH

Terjadinya Ghibah bersumber dari adanya persangkaan buruk kepada orang lain. Sebab persangkaan buruk merupakan pintu bagi ghibah dan penyakit-penyakit hati yang lain seperti hasad, iri, dengki dan sebagainya. Karena itulah, Allah -Azza Wa Jalla- menutup pintu itu dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat di atas menerangkan larangan Allah -Azza Wa Jalla- dari prasangka buruk sebab itu merupakan dosa yang akan menjatuhkan kehormatan seorang muslim. Karenanya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- juga memperingatkan umatnya akan bahaya hal ini dalam sabdanya,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ

Hati-hatilah kalian dari prasangka (buruk), karena prasangka itu adalah ucapan yang paling dusta” [Muttafaqun ‘alaihi]

Ketahuilah, bahwa seorang muslim merupakan saudara bagi muslim yang lainnya. Sebab hubungan mereka seperti sebuah bangunan yang saling kuat menguatkan. Oleh karenanya diharamkan bagi mereka untuk saling menggunjing dan membicarakan aib saudaranya disebabkan karena hal tersebut akan melemahkan persatuan dan kekuatan mereka.

 

FENOMENA GHIBAH

Pembaca yang budiman, Di masa ini gosip, menggunjing dan ghibah telah menjadi santapan sehari-hari bagi kaum muslimin. Hal ini disebabkan pengaruh media yang begitu deras dan kuat menghantam benteng keimanan yang kian tipis lagi rapuh. Setiap hari televisi menyajikan gosip-gosip seputar artis dan selebritis. Sehingga setan berhasil merubah buruknya dosa ghibah menjadi sesuatu yang indah didengar dan laris manis dalam pandangan manusia. Mulai dari masalah pacaran hingga peristiwa kawin cerai yang dipoles menjadi sesuatu yang heboh dan menarik.

Hal ini menjadi semakin buruk ketika yang digosipi itu adalah seorang muslim atau muslimah yang baik-baik. Lewat televisi tersebut, mereka menyebarkan kepada orang banyak isu dan aib yang mereka tidak ridhoi untuk dipublis. Sehingga merusak kehormatan seorang muslim dan muslimah. Tentu hal ini sangat berbahaya, sebab kehormatan seorang muslim itu sangat tinggi dan terjaga. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengancam bagi orang-orang yang menyakiti kaum muslimin dengan lisan kotor mereka,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah (menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka. Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka) Allah akan cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun dia berada di dalam rumahnya.” [HR. Abu Dawud (4724)]

Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang gemar mengghibah. Bahwasanya Allah -Ta’ala- akan membalas perbuatan mereka dengan membongkar aibnya walaupun mereka berusaha menyembunyikannya dengan sangat rapi dan rapat. Ketahuilah tiada seorangpun yang bisa lolos dari incaran Allah -Azza Wa Jalla-.

Tentang bahaya ghibah ini, Al-Hasan Al-Bashri -Rahimahullah- berkata, “Ghibah, demi Allah, lebih cepat merusakkan agama seseorang daripada ulat yang memakan tubuh mayit”.

 
KAPAN GHIBAH DIBOLEHKAN ?

Pada asalnya ghibah merupakan perkara yang dilarang dan tercela. Akan tetapi disana ada beberapa kondisi yang membolehkan hal tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam An-Nawawi -Rahimahullah-. Enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:

  1. Ketika mengadukan kezaliman seseorang kepada hakim.
  2. Meminta pertolongan kepada seseorang untuk merubah kemungkaran yang terjadi atau untuk menyadarkan orang yang berbuat kejahatan. Seperti ucapan, “si anu telah berbuat kejelekan, hentikanlah perbuatannya. ”
  3. Meminta fatwa. Seperti orang yang mengatakan, saudaraku telah mendzholimiku. Ini termasuk jenis ghibah namun diperbolehkan karena tujuannya meminta fatwa dan bimbingan.
  4. Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan seseorang.
  5. Menceritakan aib orang yang melakukan kemaksiatan, kefasikan atau bid’ah SECARA TERANG-TERANGAN, maka dibolehkan dalam rangka menghindarkan kaum muslimin dari pengaruh jeleknya.
  6. memperkenalkan seseorang yang lebih dikenal dengan cacatnya. seperti julukan Al-A’raj (pincang), Al-A’ma (buta). Namun ini diharamkan jika tujuannya untuk merendahkan.[Lihat Riyadhus Sholihin (1/425)]

Semoga kita bisa selamat dari perbuatan ghibah.

Sumber : Buletin Dakwah Madrosah Sunnah, edisi September Tahun I. Alamat redaksi : Jl. Bau Mangga, Panakkukang, Makassar Sul-sel. Pimpinan Redaksi : Ust. Bambang Abu Ubaidillah. Layout : Thuba Cre@tif. Sirkulasi : Ilham Al Atsary Website : www.madrosahsunnah.com

Untuk Berlangganan Hubungi : 085255974201 (pemesanan minimal 50 lembar, Harga Rp. 20.000)

GHIBAH (MEMBICARAKAN KEJELEKAN SESEORANG)

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Ditag pada:

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *