Suatu hari ketika kami dalam satu perjalanan di kota Makassar, di sudut kota terjadi sebuah demonstrasi yang dilakukan sekelompok orang. Demonstrasi yang diisi dengan caci-maki terhadap pemerintah dan pemimpin daerah ini. Hujatan, ejekan, tuntutan, teriakan, dan yel-yel berpadu menjadi satu sebagai sebuah “ritual demonstrasi”.

Sebagian orang mungkin menganggap ini biasa-biasa saja dalam sebuah negara demokrasi. Mencela pemerintah, menjatuhkan harga diri mereka, dan membongkar aib-aibnya adalah pemandangan yang lumrah di Nusantara ini. Namun apakah cara seperti ini adalah bagian ajaran Islam, karena sebagian demonstran adalah kaum Muslimin?

ISLAM MEMERINTAHKAN TAAT KEPADA PEMIMPIN

Pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa taat kepada pemerintah adalah salah satu prinsip dari pokok keyakinan Islam. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemimpin di antara kalian” (QS. An-Nisaa’: 59)

Al-Imam Abu Muhammad al-Barbahari (wafat 329 H) berkata: “Jika kamu lihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu, dan jika kamu melihat seseorang yang mendo’akan kebaikan untuk penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang ahlus sunnah, Insya Allah.” (Dari kitab Al-Ibanah 116 no. 136  karya Imam Ibnu Baththah)

Batasan Taat Kepada Pemimpin

Akan tetapi, bila pemimpin suatu negeri memerintahkan perkara yang melanggar agama, maka rakyatnya tidak harus mentaatinya. Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Nabi Ibnu Umar ia berkata, Rasulullah bersabda: “Wajib bagi seorang Muslim untuk taat (pada pemimpin) dalam hal-hal yang dia sukai ataupun yang ia benci, kecuali kalau diperintah untuk berbuat maksiat maka tidak boleh mendengar dan taat.” (Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Demonstrasi Produk Islami ?

Para pembaca, ketahuilah bahwa metode menasehati pemimpin dengan demonstrasi atau unjuk rasa adalah metode yang tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah. Demonstrasi adalah metode Yunani untuk menyalurkan aspirasi rakyat dalam sistem demokrasi. Salah satu tokoh orator politik Yunani bernama Demosthenes (384-322 SM), pidato-pidatonya selalu mengkritik pemerintahan raja Philipus dari Macedonia. Metode demonstrasi juga dilakukan oleh kaum puritan di Inggris pada abad pertengahan, dan juga saat revolusi Perancis. Kemudian metode demonstrasi semakin marak di Amerika tahun 60-70an, terutama saat perang Vietnam.

 Di dalam sejarah Islam, yang pertama kali melakukan demonstrasi terhadap pemerintah adalah orang-orang yang memiliki pemikiran menyimpang yang disebut pemikiran Khawarij. Mereka berdemonstrasi untuk menggulingkan pemerintah Khalifah Utsman Bin Affan menantu Rasulullah, hingga akhirnya mereka berhasil membunuh beliau. Mereka dipimpin oleh seorang provokator bernama Ibnu Saba’. Dan para ‘ulama sepakat menyatakan bahwa Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam.

Rabi’i bin Harrasy mendatangi sahabat Nabi, Hudzaifah di negri Madain, ketika banyak orang yang mendatangi khalifah Utsman bin Affan untuk berunjuk rasa mencela beliau. Kemudian Hudzaifah bertanya: “Hai Rabi’i, apa yang dilakukan kaummu?” Rabi’i menjawab: “Tentang kejadian mana yang Anda tanyakan?” Ia berkata: “Tentang siapa di antara mereka yang keluar (berunjuk rasa) kepada orang itu (Khalifah Utsman). Maka Rabi’i pun menyebutkan nama-nama beberapa orang kaumnya yang ikut demonstrasi. Lalu kata Hudzaifah: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang memisahkan diri dari Jamaah (kaum Muslimin yang dipimpin pemerintah Muslim) dan merendahkan pemerintah, maka ia akan menemui Allah Azza wa Jalla dalam keadaan tidak mempunyai muka lagi” (HR. Ahmad 5/387)

Adapun mencela pemimpin dengan protes di depan umum, pertama kali dimunculkan oleh seorang yang dijuluki Dzul Khuwaisiroh, yang hidup di zaman Rasulullah. Dengan berani ia mencela Rasulullah selaku Pemimpin Islam saat itu di depan khalayak ramai. Ia mengatakan bahwa Rasulullah tidak adil dan tidak ikhlas. (padahal Rasulullah pastilah manusia yang paling adil dan paling ikhlash). [Lihat Hadits Riwayat Imam Muslim II/739, No. 1062]. Demikian salah satu ciri khas pemikiran Khawarij, yaitu suka memvonis keburukan pada pemimpin. Dan pemikiran khawarij inilah yang diterapkan oleh kelompok-kelompok pergerakan Islam yang kerjanya suka mengkafirkan pemerintah, berdemo dan mencela pemimpin di depan umum, dan pada akhirnya mereka akan memberontak.

Metode yang Benar Menasehati Pemerintah

Kritik dengan metode teriak-teriak di jalan (demonstrasi), bukan metode yang berasal dari ajaran Rasulullah, tapi merupakan metode orang-orang Yunani, Inggris dan Amerika, yang kemudian metode ini ditiru oleh sebagian umat Islam.

Metode yang benar dalam menasehati adalah sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara, maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (dan berbicara) dengannya secara empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosanya ditanggung dia (sang penguasa) dan pahala bagi (orang yang menasihati).” (HR. Imam Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya As-Sunnah 2/522)

Inilah metode yang di ajarkan Nabi dalam menasehati pemimpin, yaitu tidak dilakukan di depan umum, tidak dengan kata-kata kasar yang bernuansa provokasi, dan tidak dengan caci-maki. Cara ini juga telah disebutkan di Al-Qur’an, Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Nabi Harun:

“Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat  atau takut”.(QS. Thaahaa: 43-44)

Perhatikanlah ayat ini..! Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menasehati Fir’aun (pemimpin yang paling kafir dan paling jahat). Apakah Allah menyuruh Nabi Musa untuk demonstrasi mencela Fir’aun? Jawabannya: “Tidak…!”. Bahkan Allah menyuruh Nabi Musa berbicara dengan lemah-lembut. Lalu apakah pemimpin negri kita ini lebih bejat dari Fir’aun sehingga harus di caci-maki di depan umum, atau di simbolkan dengan sesuatu yang buruk? Subhanallah..!. Dalam menasehati pemerintah haruslah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hikmah dari kalangan para alim ‘ulama atau orang yang berkompeten, bukan sembarang orang.

Diakhir tulisan ini, kami akan mengutip ucapan seorang Imam besar dari kaum muslimin yaitu Imam Ahmad bin Hambal yang sangat ditoreh dengan tinta emas. Beliau berkata,

andai saya memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya saya akan berikan doa itu untuk kebaikan pemimpin yang adil. Karena ketika pemimpin baik maka itu akan memberikan kebaikan kepada kaum muslimin.” [lihat Al-Furu’ (2/120)]

Sumber: Buletin Dakwah Madrosah Sunnah.

Ingin berlangganan ?

Hub: 0852-55975-4201

DO’AKAN PEMIMPIN NEGARAMU

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *