Wudhu’ merupakan perkara penting yang harus diperhatikan oleh setiap muslim yang hendak melaksanakan ibadah sholat, sebab wudhu’ merupakan salah satu diantara syarat sahnya sholat seseorang. Jika wudhu’-nya tidak sah, maka sholatnya juga tak sah.

Dari sebagian sahabat Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– pernah berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلّيِْ وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرَ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah melihat seseorang melakukan sholat, sedang pada punggung kakinya terdapat lum’ah (bagian yang tak tercuci) seukuran uang dirham yang tak terkena air wudhu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pun memerintahkannya untuk mengulangi wudhu’ dan sholatnya”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1/216), dan Ahmad (14948). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (86)]

Perhatikan, orang ini telah melaksanakan sholat, namun ia tetap diperintahkan mengulangi wudhu’ dan sholatnya, karena wudhu’ yang sebelumnya tak sah, mengakibatkan sholatnya juga tak sah.

Oleh karena itu, setiap orang yang hendak sholat wajib memperhatikan beberapa perkara yang berkaitan dengan wudhu. Sebagian perkara-perkara ini telah kami bahas dalam edisi-edisi lalu, dan berikut ini masih ada beberapa perkara yang masih berkaitan dengan wudhu’:

  • —  Hemat Menggunakan Air

Air adalah anugrah yang Allah berikan kepada kita sebagai alat berwudhu dan bersuci yang paling baik dibandingkan seluruh benda yang ada. Namun anugrah ini tetap kita jaga dan pelihara, tak boleh kita hamburkan dan bersikap boros dalam menggunakannya, walaupun jumlahnya banyak.

Oleh karenanya, ketika kita berwudhu’, hendaknya kita menggunakan air tersebut sehemat mungkin sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– ketika beliau mengajarkan kepada kita tentang tata cara wudhu’.

Simak sahabat Anas bin Malik –radhiyallahu anhu– saat berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْسِلُ أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mandi dengan menggunakan satu sho’ sampai lima mudd air, dan berwudhu’ dengan satu mudd”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Wudhu’, bab: Al-Wudhu’ bil Mudd (no. 201), dan Muslim dalam Kitab Al-Haidh, bab: Ma Yakfi mn Al-Maa’ fi Al-Ghusl wa Al-Wudhu’ (no. 734)]

Para ulama kita menjelaskan bahwa satu mudd kira-kira seukuran dua cidukan tangan orang yang sedang. Satu sho’ terdiri dari empat mudd. Dengan ukuran yang sedikit seperti ini, memberikan isyarat kepada kita bahwa sunnahnya dalam berwudhu’ dan mandi adalah hemat dalam menggunakan air, jangan boros. Walaupun kita berwudhu’ di tepi sungai yang mengalir deras, tetap kita harus hemat. Oleh karena itu, jumlah wudhu’ yang paling banyak adalah tiga-tiga kali, kecuali mengusap kepala dan telinga, hanya sekali saja. Lebih dari itu, maka seseorang telah dianggap telah boros dan melampaui batas.

Al-Imam Abu Abdillah Al-Bukhoriyrahimahullah– berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa kewajiban wudhu’ adalah satu-satu kali. Beliau juga berwudhu sebanyak dua-dua kali, dan tiga-tiga kali. Beliau tidak melebihi tiga-tiga kali. Para ahli ilmu membenci sikap boros dalam berwudhu’, dan melebihi perbuatan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Lihat Shohih Al-Bukhoriy bersama Fathul Bari (1/306)]

Melebihi perbuatan Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– adalah seseorang berwudhu’ lebih dari tiga-tiga kali dan seterusnya pada setiap anggota wudhu’.

Adapun perkara mandi dan cebok, maka boleh melebihi ukuran yang dipakai oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sesuai dengan hajat dalam menghilangkan najis, kotoran, dan bau badan. Namun tetap kita berusaha keras untuk berlaku hemat dalam menggunakan air. A’isyah –radhiyallahu anhu– mengabarkan,

أَنَّهَا كَانَتْ تَغْتَسِلُ هِيَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ يَسَعُ ثَلَاثَةَ أَمْدَادٍ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ

“Bahwa ia mandi bersama Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebuah bejana yang memuat tiga mudd atau sekitar itu”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (728)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniyrahimahullah– berkata, “Ini menunjukkan perbedaan kondisi sesuai dengan hajat, dan di dalamnya ada bantahan terhadap orang yang membatasi wudhu dan mandi dengan sesuatu (yakni, ukuran 3 atau 5 mudd) yang terdapat dalam hadits bab ini”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (1/398)]

Jadi, seseorang ketika berwudhu atau mandi, maka boleh baginya wudhu atau mandi melebihi 3 atau 5 mudd, sesuai dengan hajat. Tapi disini jangan dipahami bahwa boleh melebihi bilangan tiga-tiga kali pada setiap anggota wudhu, kecuali kepala. Yang dimaksud disini adalah jumlah dan volume air yang digunakan boleh melebihi 3 atau 5 mudd. Adapun kaifiat wudhu, maka tak berubah.

  • —  Berdo’a Usai Wudhu’

Wudhu’ merupakan amalan yang ringan, namun memiliki keutamaan besar di sisi Allah –Azza wa Jalla-. Dia merupakan pintu menuju sholat; seorang tak mungkin akan diterima sholatnya sampai ia berwudhu.

Karena besarnya keutamaan wudhu’ ini, Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tak ada seorang diantara kalian yang berwudhu’, lalu ia menyempurnakan wudhu’, lalu ia berdo’a,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq, kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya),

kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan. Dia akan masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki”. [HR. Muslim dalam Ath-Thoharoh (552)]

Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang besarnya keutamaan wudhu’ dan dianjurkannya berdoa setelah wudhu’ demi meraih hal itu.

Para pembaca yang budiman, disana juga ada sebuah doa wudhu’ yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada umatnya. Doa ini persis lafazhnya dengan doa kaffaratul majelis (doa penutup majelis).

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

مِنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ, كُتِبَ فِيْ رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابِعٍ فَلَمْ يُكْسَرْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang berwudhu’, lalu ia berdo’a,

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

(artinya: Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang haq, melainkan Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu, dan bertobat kepada-Mu),

maka doa itu akan ditulis dalam sebuah kertas, lalu dicap dengan suatu stempel. Kertas itu tak akan robek sampai hari kiamat”. [HR. An-Nasa’iy dalam Amal Al-Yaum wa Al-Lail (no. 81), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/564), serta yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2333)]

Doa yang kedua ini juga perlu kita lestarikan dan masyhurkan, karena banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengetahui tuntunannya. Jadi, disunnahkan bagi kita membaca doa yang pertama dan doa yang kedua secara bergantian, sehingga doa-doa ini tidak hilang dan dilupakan.

Inilah doa wudhu yang benar yang pernah diajarkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabat, yaitu berdoa setelah berwudhu’, bukan berdoa di sela-sela wudhu sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin (1/142). Apa yang diajarkan oleh Al-Ghozali bahwa setiap anggota wudhu’, ada doa dan dzikirnya, maka ini adalah keliru!!

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Imam Ibnush Sholahrahimahullah– berkata, “Tidak shohih (benar) suatu hadits pun di dalamnya”. [Lihat At-Talkhish Al-Habir (1/110)]

Ulama Syafi’iyyah lainnya, Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy rahimahullah– berkata dalam sebuah kitabnya, “Adapun berdoa pada setiap anggota wudhu’, maka tak ada suatu hadits pun datang dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [Al-Adzkar Al-Muntakhobah min Kalam Sayyid Al-Abror -Shallallahu alaihi wa sallam- (hal. 35), cet. Dar Al-Hadits, 1424 H]

Al-Imam Ibnul Qoyyimrahimahullah– berkata, “Hadits-hadits dzikir pada setiap anggota-anggota wudhu’, semuanya batil, tak ada sesuatupun yang shohih di dalamnya”. [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 120)]

Al-Imam Abu Bakr Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyahrahimahullah– berkata, “Setiap hadits tentang dzikir-dzikir wudhu’ yang diucapkan tersebut adalah kedustaan yang diada-adakan. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah mengucapkan sesuatu darinya, dan tak pula mengajarkan hal itu kepada umatnya”. [Lihat Zaadul Ma’ad fi Hadyi Khoiril Ibaad (1/188), cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1421 H]

Dzikir dan doa dan yang disunnahkan saat berwudhu adalah tasmiyyah (mengucapkan, “Bismillah”) sebelum cuci tangan, dan dua doa yang kami bawakan di atas saat usai wudhu’. Adapun selainnya, maka haditsnya dho’if, bahkan ada yang palsu, seperti yang diajarkan oleh Al-Ghozaliy.

  • —  Sholat Dua Raka’at Usai Wudhu’

Jalan-jalan surga telah dimudahkan oleh Allah –Azza wa Jalla– bagi orang yang Allah berikan taufiq dan hidayah. Perhatikan Bilal bin Robah –radhiyallahu anhu-, beliau mendapatkan kabar gembira bahwa ia termasuk penduduk surga, sebab ia telah berusaha menapaki sebuah jalan diantara jalan-jalan surga. Dengarkan kisahnya dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu-, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam surga”. Bila berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Cuma saya tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudhu’ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Al-Jum’ah (no. 1149), dan Muslim (no. 6274)]

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa berwudhu’, lalu sholat sunnah setelahnya merupakan amalan yang berpahala besar. Ibnul Jauziyrahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk melakukan sholat usai berwudhu’ agar wudhu tidak kosong (terlepas) dari maksudnya”. [Lihat Fathul Bari (4/45)]

Inilah yang perlu kita ketahui dan perhatikan diantara perkara-perkara wudhu berdasarkan Sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– yang beliau pernah ajarkan kepada para sahabat dan umatnya.

(Ditulis oleh : al-Ustadz Abu Faizah Abdul Qodir, Lc, Staf pengajar di Ponpes al-Ihsan Gowa. Sulawesi Selatan dari : http://pesantren-alihsan.org)

Beginilah Cara Nabi Berwudhu ( 4 )

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *