Wudhu merupakan salah satu ibadah. Sedang ibadah yang kita lakukan –selain ikhlash-, juga harus mencocoki dan mengikuti sunnah (petunjuk) Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Ini perlu kita pahami dengan baik, sebab berapa banyak kaum muslimin yang berwudhu’, lalu wudhu’nya tak sesuai dengan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dia bagaikan anak kecil yang tak memahami arti dan kaifiat wudhu’ yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya.

Kali ini buletin mungil At-Tauhid akan terus setia menemani anda dalam menapaki sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan syari’at wudhu’ yang suci ini dengan beberapa penjelasan dan faedah berikut ini:

  • Bersungguh-sungguh dalam Berkumur-kumur & Menghirup Air ke Hidung

Ketika seseorang berwudhu’, maka hendaknya ia memperhatikan sunnah dan tata cara wudhu yang benar, dan menyempurnakannya. Satu perkara yang sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin, yaitu cara berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dengan satu cidukan. Banyak diantara mereka yang hanya menyentuh air dengan jari, lalu sekedar memasukkan telunjuknya ke hidung.

Dari Yahya bin Umaroh dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshoriy –seorang sahabat-. Dia (Yahya bin Umaroh) berkata,

قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ada yang berkata kepadanya (yakni, kepada Abdullah bin Zaid), “Berwudhu’lah untuk kami seperti wudhu’nya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. Kemudian beliau (Abdullah bin Zaid) meminta bejana yang berisi air. Dia pun menuangkan air pada kedua tangannya, lalu mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangannya dan mengeluarkannya seraya berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dari satu telapak (satu cidukan). Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mencuci wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mencuci kedua tangannya sampai ke siku sebanyak dua-dua kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mengusap kepalanya sambil menggerakkan kedua tangannya dari depan (ke belakang), dan menggerakkan tangannya dari belakang (ke depan). Kemudian beliau mencuci kedua kakinya sampai kepada kedua mata kakinya. Kemudian beliau berkata, “Demikianlah wudhu’nya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 185, 186, 191,192, 197, dan 199), dan Muslim (554)]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam An-Nawawiyrahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat petunjuk yang gamblang bagi madzhab yang terpilih bahwa sunnahnya dalam berkumur-kumur (madhmadhoh) dan memasukkan air ke hidung (istinsyaq) adalah dengan tiga kali cidukan. Seseorang berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (sekaligus) dari setiap cidukan tersebut”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (3/116), cet. Dar Al-Ma’rifah]

Hadits ini menunjukkan bahwa madhmadhoh (berkumur-kumur), dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dengan satu cidukan air, lalu menyemburkannya dari hidung adalah sunnah (petunjuk) Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– yang memiliki hukum wajib.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Sempurnakanlah wudhu’, dan bersungguh-sungguhlah dalam berkumur-kumur, kecuali jika engkau sedang berpuasa”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 142-145, 2366, & 3973), At-Tirmidziy (38 & 788), An-Nasa’iy (87 & 114), dan Ibnu Majah (448). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 405)]

Al-Allamah Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiyrahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya berkumur-kumur”. [Lihat Aunul Ma’bud (1/158)]

  • Mendahulukan Tangan Kanan

Saat berwudhu, seseorang dianjurkan mendahulukan anggota badan yang kanan, sebab itu adalah perkara yang amat dicintai oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- A’isyah –radhiyallahu anha– berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ مَا اسْتَطَاعَ فِي شَأْنِهِ كُلِّهِ فِي طُهُورِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَتَنَعُّلِهِ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mencintai at-tayyamun (mendahulukan yang kanan) -semampunya- dalam semua kondisinya: dalam bersucinya, bersisir, dan bersandal”.[HR. Al-Bukhoriy (no. 168, 446, 5380, 5854, & 5926), dan Muslim (no. 615-616)]

Al-Hafizh Ibnu Hajarrahimahullah– berkata dalam menjelaskan sebab Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- senang mendahulukan yang kanan, “Konon kabarnya, karena beliau mencintai harapan yang baik, sebab ashabul yamin (golongan kanan) adalah penghuni surga”. [Lihat Fathul Bari (1/273)]

Inilah salah satu keindahan Islam. Islam mengajarkan kepada kita kesucian dan kesopanan. Tangan kanan –misalnya- didahulukan dan digunakan dalam perkara yang baik dan  terpuji.

  • Mencuci Setiap Anggota Sebanyak Masing-masing Tiga Kali

Diantara bentuk kesempurnaan wudhu’, seseorang ketika berwudhu’ hendaknya mencuci anggota wudhu’nya sebanyak tiga-tiga kali sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Namun tentunya boleh juga kita berwudhu’ sebanyak satu-satu kali, atau dua-dua kali, sebab hal ini juga telah dicontohkan oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabatnya.

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu– berkata,

تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berwudhu’ satu-satu kali”. [HR. Al-Bukhoriy (157)]

Abdullah bin Zaid –radhiyallahu anhu– berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berwudhu’ dua-dua kali”. [HR. Al-Bukhoriy (158)]

Humron bin Aban An-Namariy Al-Madaniy –rahimahullah– berkata

أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Bahwa ia pernah melihat Utsman bin Affan meminta bejana air. Beliau (Utsman) menuang air pada kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali seraya mencuci keduanya. Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya pada bejana. Beliau pun berkumur-kumur, dan memasukkan air ke dalam hidungnya, lalu mencuci wajahnya sebanyak tiga kali, dan kedua tangannya sampai kepada kedua sikunya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepalanya, lalu mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali sampai kepada kedua mata kaki. Kemudian Utsman berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,”Barangsiapa yang berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, lalu ia sholat dua raka’at, sedang ia tidak mengajak hatinya berbicara di dalam dua raka’at itu, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR. Al-Bukhoriy (159), dan Muslim (226)]

Riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berwudhu’ sebanyak tiga-tiga kali, inilah tata cara wudhu’ yang paling sempurna. Adapun riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- terkadang berwudhu’ dua-dua atau tiga-tiga kali, maka ini menjelaskan bagi kita tentang bolehnya hal tersebut. Tapi yang paling afdhol adalah tiga-tiga kali. Wallahu A’lam.

Berbeda dengan  sebagian orang yang menyangka bahwa berwudhu harus sebanyak tiga-tiga kali, tak boleh kurang dari itu. Hadits-hadits di atas secara gamblang membantah mereka dengan tegas!!

  • Menggosok Anggota Badan

Sering kita menemukan ada sebagian diantara kaum muslimin ketika berwudhu’ mereka hanya menyirami atau mengaliri anggota wudhu’nya dengan air tanpa digosok. Padahal Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mencontohkan bahwa beliau saat berwudhu; maka beliau menggosok anggota wudhu’nya.

Kita dengarkan sahabat Abdullah bin Zaid –radhiyallahu anhu– berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم أتي بثلثي مد  فجعل يدلك ذراعه

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- diberikan dua pertiga mudd. Lalu mulailah beliau menggosok lengannya”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (no. 119) dengan sanad yang shohih]

Menggosok anggota wudhu’ amat penting kita perhatikan, sebab akan membantu kita menyempurnakan wudhu kita. Berapa banyak orang yang tidak meratakan air pada seluruh kulit dari anggota wudhu’nya!! Semua itu akibat tidak menggosok anggota wudhu’nya. Sering kita menemukan ada orang yang tidak basah bagian tumit dan sela-sela kakinya, karena melalaikan sunnah menggosok saat berwudhu’. Oleh karena itu, sunnah ini jangan diremehkan!!

  • Menyela-nyelai Jari-jari Tangan & Kaki

Perkara wudhu bukanlah perkara remeh. Sebab akan menyebabkan sholat kita tak akan diterima di sisi Allah, jika tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Lantaran itu, seorang muslim ketika melakukan wudhu harus menerapkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan tata cara wudhu’. Disana ada satu tata cara yang sering kita lalaikan saat berwudhu’, yaitu menyela-nyelai jari-jemari tangan dan kaki. Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

“Sempurnakanlah wudhu’, dan sela-selailah jari-jemari, serta bersungguh-sungguhlah dalam berkumur-kumur, kecuali jika engkau sedang berpuasa”. [HR. Abu Dawud (142, 2366, 3973), At-Tirmidziy (38 & 788), An-Nasa’iy (no. 87, & 114), Ibnu Majah (no. 448). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (no. 405)]

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadirahimahullah– berkata, “Hadits ini di dalamnya terdapat dalil tentang wajibnya menyela-nyelai jari-jemari tangan dan kaki”. [Lihat Aunul Ma’bud (1/185)]

Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan wudhu’ Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Perkara-perkara ini amat perlu kita perhatikan, sebab banyak diantara kaum muslimin yang melalaikan dan meremehkannya. Hal ini terjadi, karena wudhu’ adalah amalan rutinitas yang berulang kali dalam kehidupan kita. Kaum muslimin telah melaksanakannya secara turun-temurun, sehingga menganggapnya sesuatu yang biasa sifatnya, tanpa perlu dikaji lagi. Padahal tak demikian halnya, bahkan harus tetap dipelajari dan dikaji dari sumbernya.

(Ditulis oleh : al-Ustadz Abu Faizah Abdul Qodir, Lc, Staf pengajar di Ponpes al-Ihsan Gowa. Sulawesi Selatan dari : http://pesantren-alihsan.org)

Beginilah Cara Nabi Berwudhu ( 3 )

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *