Setiap orang mengharapkan cinta dari Allah, dan berusaha menempuh jalan dalam mendapatkannya. Seorang yang mengharapkan cinta dari Allah tak mungkin akan meraih cinta itu, kecuali ia melakukan ittiba’ (keteladanan) kepada Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, sebab beliau adalah teladan kita yang harus kita taati dan ikuti.

Allah –Azza wa Jalla– berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32) [آل عمران/31، 32]

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. Ali Imraan : 31-32)

Seorang yang ingin mendapatkan cinta dari Allah, syaratnya adalah seorang mengikuti Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam setiap perkara, baik yang besar, maupun kecil; mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Tak ada nafas yang kita hembuskan, kecuali kita mengikuti Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– di dalamnya. Semua perkara, baik aqidah, ibadah,  maupun akhlaq, maka seorang muslim haruslah  mengikuti Sunnah Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-.

Salah satu ibadah agung yang perlu kita meneladani Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– di dalamnya adalah WUDHU. Oleh karena itu, para pembaca amat perlu mengetahui beberapa perkara yang berkaitan dengan syari’at wudhu’ agar para pembaca mampu menyempurnakan ittiba’ (keteladanan)nya kepada sunnah. Diantara perkara-perkara itu:

  • —  Melakukan Niat Wudhu’

Apa itu Niat ? Kalau kita membuka kitab-kitab kamus berbahasa arab, maka kita akan jumpai ulama bahasa akan memberikan definisi tertentu bagi niat. Muhammad bin Abu Bakr  Ar-Rozy -rahimahullah-  berkata saat memaknai niat, “Meniatkan adalah menginginkan sungguh-sungguh”. [Lihat Mukhtar Ash-Shihah (1/286)]

Ibnu Manzhur rahimahullah– berkata, ” Meniatkan sesuatu artinya memaksudkannya dan meyakininya. Niat adalah arah yang dituju”. [Lihat Lisan Al-Arab (15/347)]

Dari ucapan dua orang ulama bahasa ini, bisa kita simpulkan bahwa niat (نِيَّةٌ) adalah maksud dan keinginan seseorang untuk melakukan suatu amalan dan pekerjaan. Jadi, niat itu merupakan amalan hati, bukan amalan lisan!!

Seorang yang ingin berwudhu’ tak perlu melafazhkan niat wudhu’, karena niat adalah pekerjaan hati, tak perlu dilafazhkan. Selain itu, memang melafazhkan niat dalam semua ibadah tak ada sunnahnya dari Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-. Oleh karenanya, Al-Imam Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Berbisik-bisik ketika berniat sholat, dan bersuci (wudhu’) termasuk bentuk kejahilan terhadap syari’at, dan kerusakan dalam berpikir”. [Lihat Al-Amr bil Ittiba’ (hal. 295-296) karya As-Suyuthiy, dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman, cet. Dar Ibn Al-Qoyyim & Dar Ibn Affan]

  • —  Bersiwak Sebelum Wudhu’

Diantara waktu yang amat dianjurkan bagi kita untuk menggunakan siwak agar mulut kita bersih dan harum, yaitu ketika kita mau melakukan wudhu’. Ini merupakan salah satu bukti keindahan agama Islam yang sempurna ini.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda tentang pentingnya bersiwak

لَولاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ الْوُضُوْءِ وَلأَخَّرْتُ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ شَطْرِ اللَّيْلِ

“Andai aku tak (khawatir) akan memberatkan umatku, maka aku akan perintahkan (wajibkan) mereka bersiwak setiap kali hendak berwudhu, dan akan kutangguhkan sholat Isya’ ke sepertiga malam atau tengah malam”.[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (7406). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Arna’uth dalam Takhrij Al-Ihsan (2/250)]

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata, Dalam hadits ini dalil yang menunjukkan bolehnya bersiwak pada setiap waktu berdasarkan sabdanya, “setiap kali hendak wudhu”, dan “setiap kali hendak sholat”. Sedang sholat wajib pada kebanyakan waktu, baik pada waktu malam, siang, maupun shubuh”. [Lihat At-Tamhid (7/198) karya Ibnu Abdil Barr]

Demikianlah bersiwak dianjurkan bagi seorang yang mau berwudhu’ dan sholat agar lebih sempurna pahalanya dan mendapatkan ridho dari Allah, dan tidak mengganggu kenyamanan kaum muslimin saat kita sholat di sampingnya.

  • —  Membaca Tasmiyah

Seorang ketika hendak melakukan wudhu’, maka dianjurkan membaca tasmiyah (bismillah), bukan basmalah (bismillahir rahmanir rahim), sebab beda antara tasmiyah dengan basmalah. Tasmiyah lebih ringkas dibandingkan dengan basmalah.

Anas bin Malik –radhiyallahu anhu– berkata,

طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الْمَاءِ وَيَقُولُ تَوَضَّئُوا بِسْمِ اللَّهِ فَرَأَيْتُ الْمَاءَ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّئُوا مِنْ عِنْدِ آخِرِهِمْ قَالَ ثَابِتٌ قُلْتُ لِأَنَسٍ كَمْ تُرَاهُمْ قَالَ نَحْوًا مِنْ سَبْعِينَ [ أخرجه النسائي في سننه (رقم: 78), وصححه الألباني في صحيح سنن النسائي (1/32)]

”Sebagian sahabat-sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mencari air wudhu’. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Apakah ada air pada seorang diantara kalian?” Kemudian beliau meletakkan tangannya dalam air seraya bersabda, “Berwudhu’lah kalian dengan bismillah”. Lalu kami melihat ada air yang keluar di antara jari-jari beliau sampai berwudhu’lah mereka hingga orang yang paling terakhir diantara mereka”. Tsabit berkata, “Aku katakan kepada Anas, “Berapa orang yang engkau lihat diantara mereka?” Beliau berkata, “Sekitar 70 orang”. [HR. An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (78). Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah– men-shohih-kan hadits ini dalam Shohih Sunan An-Nasa’iy (1/34)]

Hadits ini merupakan dalil tentang disyari’atkannya membaca tasmiyah (بِسْمِ اللهِ) sebelum berwudhu’ sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabatnya. Para ulama berselisih pendapat tentang hukum tasmiyah sebelum berwudhu; ada yang berpendapat wajibnya dan ada yang berpendapat tentang mustahab-nya. Intinya, tasmiyah sebelum wudhu’ adalah perkara yang disyari’atkan, berbeda dengan pernyataan sebagian orang yang mengingkari sunnahnya.

Al-Izz Ibnu Abdis Salam Asy-Syafi’iyrahimahullah– berkata, “Perbuatan-perbuatan para hamba ada tiga macam: yang disunnahkan di dalamnya tasmiyah, yang tidak disunnahkan pada tasmiyah, dan dilarang padanya tasmiyah. Yang pertama (disunnahkan  di dalamnya tasmiyah), seperti: wudhu’, mandi junub, tayammum, menyembelih hewan ternak, membaca Al-Qur’an (jika di awal surat, -pent.). Termasuk juga diantaranya, perbuatan-perbuatan yang mubah, seperti: makan, minum, dan jimak. Yang kedua (yang tidak disunnahkan di dalamnya tasmiyah), seperti: sholat, adzan, haji, umrah, dzikir, dan do’a. Yang ketiga (yang dilarang di dalamnya tasmiyah) adalah perbuatan-perbuatan haram, karena tujuan dari bismillah adalah mengharap berkah dalam perbuatan yang mengandung bismillah. Sedang perbuatan yang haram tentunya tidak diinginkan banyak dan berkahnya. Demikian pula halnya perbuatan yang makruh”. [Lihat Syarh Sunan An-Nasa’iy (1/67) oleh Abu Bakr As-Suyuthiy]

Terlepas wajib tidaknya tasmiyah sebelum berwudhu’, maka seyogyanya seorang muslim jangan meninggalkannya demi mencontoh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dan para sahabat.

  • —  Mencuci Tangan Sebanyak Tiga Kali di Awal Wudhu’

Di awal seorang melakukan wudhu’, diperintahkan baginya untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum ia mencelupkan tangannya pada bejana ketika mau mencuci anggota wudhu’ yang lainnya. Jika ia mencuci tangannya dengan air kran, maka tetap ia mendahulukan untuk mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali masing-masing.

Humron bin Aban An-Namariy Al-Madaniyrahimahullah– berkata

أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِإِنَاءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَغَسَلَهُمَا ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْإِنَاءِ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Bahwa ia pernah melihat Utsman bin Affan meminta bejana air. Beliau (Utsman) menuang air pada kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali seraya mencuci keduanya. Kemudian beliau memasukkan tangan kanannya pada bejana. Beliau pun berkumur-kumur, dan memasukkan air ke dalam hidungnya, lalu mencuci wajahnya sebanyak tiga kali, dan kedua tangannya sampai kepada kedua sikunya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengusap kepalanya, lalu mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali sampai kepada kedua mata kaki. Kemudian Utsman berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,”Barangsiapa yang berwudhu’ seperti wudhu’ku ini, lalu ia sholat dua raka’at, sedang ia tidak mengajak hatinya berbicara di dalam dua raka’at itu, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. [HR. Al-Bukhoriy (159), dan Muslim (226)]

Hadits ini menjelaskan tentang disyari’atkannya mencuci kedua tangan sebelum wudhu’ demi menjaga kebersihan tangan dan air yang digunakan berwudhu’, jangan langsung dicelupkan dalam bejana.

Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy Asy-Syafi’iyrahimahullah– berkata saat memetik faedah dari hadits di atas, “Hadits ini dijadikan dalil tentang dianjurkannya mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana air, walapun ia tak bangkit dari tidur, jika ia ragu tentang kenajisan tangannya. Inilah pendapat kami, sedangkan penunjukan tentang hal itu jelas. Penjelasan masalah ini akan datang pada babnya nanti, Insya Allah -Ta’ala-, Wallahu A’lam”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (1/374) karya An-Nawawiy]

Mencuci tangan lebih ditekankan saat seorang bangun tidur sebagaimana yang tertera dalam hadits shohih dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu– bahwa Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِي وَضُوئِهِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika seorang diantara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaknya ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkannya dalam air wudhu’nya, karena seorang diantara kalian tak mengetahui dimana tangannya bermalam”. [HR Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Wudhu’ (157), dan Muslim dalam Kitab Ath-Thoharoh (no. 416-417)]

Inilah petunjuk Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bagi orang yang bangun tidur, sedang ia hendak melakukan wudhu’.

  • —  Menyatukan antara Berkumur-kumur & Memasukkan Air ke Hidung dengan Satu Cidukan

Sebuah sunnah (petunjuk) Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– yang banyak ditinggalkan orang di zaman kita ini saat ia berwudhu’ adalah menyatukan antara berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan satu cidukan. Seorang yang ingin mengikuti sunnah ini, ia hendaknya mengambil air dengan satu cidukan dengan menggunakan tangan kanan, lala ia memasukkan air ke mulut dan hidung secara bersamaan dari cidukan tersebut. Kemudian ia berkumur-kumur dengan menggerak-gerakkan air dalam mulutnya, lalu ia mengeluarkannya bersamaan dengan air yang ia masukkan ke hidungnya.

Dari Yahya bin Umaroh dari Abdullah bin Zaid bin Ashim Al-Anshoriy –seorang sahabat-. Dia (Yahya bin Umaroh) berkata,

قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ada yang berkata kepadanya (yakni, kepada Abdullah bin Zaid), “Berwudhu’lah untuk kami seperti wudhu’nya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. Kemudian beliau (Abdullah bin Zaid) meminta bejana yang berisi air. Dia pun menuangkan air pada kedua tangannya, lalu mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangannya dan mengeluarkannya seraya berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung dari satu telapak (satu cidukan). Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mencuci wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mencuci kedua tangannya sampai ke siku sebanyak dua-dua kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya (ke dalam bejana), dan mengeluarkannya seraya mengusap kepalanya sambil menggerakkan kedua tangannya dari depan (ke belakang), dan menggerakkan tangannya dari belakang (ke depan). Kemudian beliau mencuci kedua kakinya sampai kepada kedua mata kakinya. Kemudian beliau berkata, “Demikianlah wudhu’nya Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 185, 186, 191,192, 197, dan 199), dan Muslim (554)]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Imam An-Nawawiyrahimahullah– berkata, “Di dalam hadits ini terdapat petunjuk yang gamblang bagi madzhab yang terpilih bahwa sunnahnya dalam berkumur-kumur (madhmadhoh) dan memasukkan air ke hidung (istinsyaq) adalah dengan tiga kali cidukan. Seseorang berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung (sekaligus) dari setiap cidukan tersebut”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj (3/116), cet. Dar Al-Ma’rifah]

Hadits ini menunjukkan bahwa madhmadhoh (berkumur-kumur), dan istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dengan satu cidukan air, lalu menyemburkannya dari hidung adalah sunnah (petunjuk) Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– yang memiliki hukum wajib.

(Ditulis oleh : al-Ustadz Abu Faizah Abdul Qodir, Lc, Staf pengajar di Ponpes al-Ihsan Gowa. Sulawesi Selatan dari : http://pesantren-alihsan.org)

Beginilah Cara Nabi Berwudhu ( 2 )

Komentar

Silahkan komentar atau bertanya

Madrosah Sunnah

Belajar Islam Lebih Mudah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *